Jika Papua merasa Indonesia bukan hanya datang membawa aturan, tetapi juga kasih sayang, maka rasa memiliki terhadap Indonesia akan tumbuh lebih kuat. Sebab, persatuan sejati tidak bisa dipaksa. Persatuan sejati harus dirawat dengan keadilan dan cinta.
Oleh karena itu, kunjungan Dedi Mulyadi ke Papua dapat dimaknai juga bukan sekadar perjalanan seorang gubernur ke daerah lain. Ia adalah pesan bahwa Indonesia masih mungkin diperbaiki dengan cara yang lebih manusiawi.
Keutuhan Indonesia tidak cukup dijaga dengan kekuatan negara. Ia harus dijaga dengan kepercayaan rakyat.
Dan kepercayaan rakyat hanya tumbuh jika pemimpin hadir dengan hati, bekerja dengan keadilan, dan menghormati martabat setiap anak bangsa.
Papua merdeka mungkin lahir dari rasa kecewa. Maka Indonesia harus menjawabnya dengan harapan yang nyata. Yaitu, harapan keadilan yang terasa, pembangunan yang menghormati budaya, dan pemimpin yang mau datang bukan sebagai penguasa, melainkan sebagai saudara.
Dalam salah satu kutipan pidatonya yang beredar, Dedi menekankan bahwa “memahami Papua harus dengan perasaan” dan “cinta harus bertemu dengan cinta,” yang cocok dijadikan jangkar narasi “diplomasi rasa”.***
*Toto Izul Fatah ialah Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA dan Ketua Umum IKA PP Ibadurrahman YLPI Tegalega Sukabumi, Jawa Barat
Artikel opini tersebut tidak mewakili pandangan redaksi