Mengulas buku Problem Solving Ala Presiden Prabowo: Presiden Solusi (2026)
Oleh Denny JA
WartaPesona.com - Pak Slamet tidak pernah membayangkan bahwa musuh terbesarnya bukan hama, bukan pula harga pupuk. Musuh terbesarnya adalah kekeringan.
Di awal 2024, sawahnya di Indramayu mulai retak-retak. Tanah yang biasanya hijau berubah menjadi hamparan cokelat yang pecah seperti kulit yang kehabisan darah.
Ketika hampir satu juta hektare sawah Indonesia mengalami kekurangan air, masa depan jutaan keluarga ikut terancam. Lalu datanglah bantuan pompa air dari pemerintah.
Baca Juga: Tasawuf Demokrasi, Dari Kotak Suara Menuju Puncak Kesadaran Bernegara
Pemerintah melalui Kementerian Pertanian meluncurkan program bantuan pompa air besar-besaran.
Sebanyak 77.270 pompa diesel dan pompa listrik disalurkan sepanjang 2024–2025, lalu ditambah 11.000 pompa lagi pada 2026 untuk membantu petani mengambil air dari sungai, embung, dan sumber air terdekat.
Ketika pompa itu mulai bekerja, air kembali mengalir ke sawah Pak Slamet. Padi yang hampir mati perlahan hidup kembali. Panen yang semula diperkirakan gagal akhirnya terselamatkan.
Bagi sebagian orang, itu hanya bantuan pompa. Namun bagi keluarga Pak Slamet, itu adalah penyelamatan masa depan.
Baca Juga: MotoGP 2026: Marco Bezzecchi Mimimpin Klasemen Sementara Setelah Marc Marquez Memenangi GP Hungaria
Anak Pak Slamet tetap bisa bermimpi kuliah. Kisah itu tampak sederhana. Namun justru di situlah makna sebuah kebijakan publik diuji.
Sebab ketahanan pangan sebuah bangsa sering kali dimulai dari satu hal yang sederhana: air yang berhasil tiba tepat waktu di sawah petani.
Dan kisah sejenis itu hanyalah satu dari 108 solusi yang didokumentasikan dalam buku ini.