Kisah 108 Solusi Presiden Prabowo Subianto

photo author
Tim Warta Pesona 01, Warta Pesona
- Senin, 8 Juni 2026 | 10:02 WIB

Apa isi buku ini?

Secara sederhana, buku ini adalah peta besar mengenai tentang negara bekerja menyelesaikan persoalan rakyat.

Di dalamnya ada 108 kasus yang mencakup pertanian, pendidikan, kesehatan, pangan, investasi, industri, energi, hilirisasi, perumahan, perlindungan sosial, birokrasi, teknologi, infrastruktur, diplomasi, hingga pemberdayaan ekonomi rakyat.

Selain bantuan pompa untuk petani yang terdampak kekeringan, buku ini juga memuat penyederhanaan distribusi pupuk bersubsidi, percepatan pembangunan lumbung pangan, program makan bergizi gratis, dan pembangunan sekolah unggulan.

Juga soal penguatan layanan kesehatan, digitalisasi birokrasi, pengembangan industri hilirisasi mineral, penguatan ketahanan energi, peningkatan investasi asing, hingga penguatan diplomasi ekonomi Indonesia.

Yang menarik, setiap topik disusun dengan pola yang konsisten. Masalah dijelaskan terlebih dahulu. Setelah itu solusi yang diambil pemerintah dipaparkan.

Kemudian dijelaskan pula dampak yang diharapkan. Format seperti ini membuat pembaca dapat menilai sendiri hubungan antara problem dan solusi secara lebih objektif.

Sesungguhnya buku ini bukan hanya tentang 108 solusi. Buku ini juga tentang perubahan cara memandang negara.

Negara tidak lagi dipahami sebagai panggung politik, melainkan sebagai mesin yang terus belajar menyelesaikan masalah rakyat.

Merenungkan buku ini, terasa tiga kekuatannya.

Kekuatan pertama: Buku ini mengubah politik menjadi problem solving

Kebanyakan buku politik berbicara tentang ideologi, konflik, atau pertarungan kekuasaan. Buku ini mengambil jalan berbeda.

Fokusnya bukan siapa yang menang atau kalah dalam politik, melainkan persoalan apa yang berhasil diselesaikan.

Pendekatan ini penting karena rakyat sesungguhnya hidup di dunia yang konkret. Petani membutuhkan air. Nelayan membutuhkan solar. Pelajar membutuhkan sekolah yang lebih baik.

Pasien membutuhkan layanan kesehatan yang lebih cepat. Mereka tidak hidup di ruang seminar politik, melainkan di ruang kehidupan sehari-hari.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: IRA WP

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Tak Cukup Ashabiyah Hambalang

Kamis, 23 Juli 2026 | 08:30 WIB

Ke Baduy Saja, Tak Perlu ke Singapura

Selasa, 21 Juli 2026 | 18:57 WIB

Ketika Sepak Bola Menjadi Sejenis Agama Modern

Senin, 20 Juli 2026 | 12:48 WIB

Rezeki Yang Menular

Senin, 20 Juli 2026 | 09:24 WIB

Simpul Nominee Rumah Sentul

Kamis, 16 Juli 2026 | 08:55 WIB

Jawaban Awal Seputar Jaksa

Sabtu, 11 Juli 2026 | 07:22 WIB

“Seandainya saya Jaksa Agung”

Kamis, 9 Juli 2026 | 14:12 WIB

Mengapa Manusia Suka Menonton Sepak Bola?

Selasa, 7 Juli 2026 | 06:43 WIB
X