Oleh Toto Izul Fatah*
WartaPesona.com - Demokrasi idealnya tak hanya dipahami sebagai kontestasi politik, prosedur memilih pemimpin, menghitung suara, membentuk partai, atau menyusun konstitusi.
Demokrasi juga harusnya dipahami sebagai perjalanan kesadaran berbangsa dan bernegara.
Dimulai dari taat aturan, menjalani proses, menemukan makna, sampai akhirnya demokrasi menjadi laku batin kebangsaan.
Itulah yang ingin saya katakan sebuah istilah yang disebut Tasawuf Demokrasi.
Baca Juga: MotoGP 2026: Marco Bezzecchi Mimimpin Klasemen Sementara Setelah Marc Marquez Memenangi GP Hungaria
Seperti diketahui, dalam tasawuf, seseorang tidak cukup hanya beragama secara lahir. Ia harus berjalan dari syariat, menuju tarekat, masuk ke hakikat, lalu mencapai makrifat. Begitu pula demokrasi.
Sebuah bangsa belum tentu demokratis hanya karena memiliki Pemilu, partai politik, DPR, konstitusi, dan lembaga negara. Semua itu baru kulit luar.
Demokrasi baru mencapai ruhnya ketika warga, elite, partai, penguasa, oposisi, aparat, media, dan pemilih sama-sama memiliki kesadaran bahwa demokrasi adalah jalan luhur untuk menjaga martabat manusia.
Dalam konteks ini, demokrasi juga memiliki level dan tingkatannya sebagaimana dalam ilmu tasawuf.
Baca Juga: Kreator Konten Dari Uganda Bikin Video Tentang Indonesia, Sebut Rizky Ridho dan Jay Idzes
Pertama, level Syariat Demokrasi, yaitu berupa aturan main.
Ini adalah demokrasi sebagai aturan formal. Ada konstitusi. Ada undang-undang. Ada pemilu. Ada KPU. Ada partai politik. Ada parlemen. Ada mahkamah. Ada kebebasan memilih dan dipilih.
Pada level ini, demokrasi masih dipahami sebagai kewajiban prosedural. Orang ikut pemilu karena jadwal negara. Partai mengikuti aturan karena takut didiskualifikasi. Kandidat patuh karena diawasi. Aparat netral karena diwajibkan.
Artikel Terkait
Kitab Suci di Tengah Bencana Ekologi
Marco Bezzecchi Pimpin Klasemen MotoGP 2026 Setelah Marc Marquez Menangi Sprint Race GP Hungaria
Car Free Day di Jalan HR Rasuna Said Rutin Digelar Setiap Minggu Mulai Hari Ini, Pukul 05.30 Sampai 09.00 WIB
Rute Lalu Lintas Ketika Car Free Day Berlangsung di Jalan HR Rasuna Said
Elon Musk, Thomas Alva Edison, dan Mengapa Kita Perlu Inovator?