Tasawuf Demokrasi, Dari Kotak Suara Menuju Puncak Kesadaran Bernegara

photo author
Tim Warta Pesona 01, Warta Pesona
- Senin, 8 Juni 2026 | 09:37 WIB

Negara tidak merasa sebagai penguasa yang berdiri di atas rakyat. Rakyat tidak merasa sebagai objek yang hanya dibutuhkan saat pemilu.

Makrifat Demokrasi adalah keadaan ketika demokrasi telah menjadi akhlak publik. Orang tidak curang bukan karena diawasi. Orang tidak membeli suara bukan karena takut tertangkap.

Penguasa tidak menekan oposisi bukan karena dilarang, tetapi karena tahu bahwa oposisi adalah bagian dari kesehatan negara.

Pada puncak ini, demokrasi menjadi seperti napas. Tidak perlu dipaksa, karena ia sudah hidup dalam kesadaran.

Pertanyaannya, Indonesia sudah berada di level mana?

Dalam kerangka Tasawuf Demokrasi, Indonesia tampaknya belum sampai ke level Makrifat Demokrasi.

Bahkan untuk disebut sudah mapan pada level hakikat pun masih perlu hati-hati.

Indonesia sudah jelas melewati level Syariat Demokrasi. Kita punya konstitusi demokratis, Pemilu berkala, partai politik, lembaga perwakilan, pemilihan presiden langsung, pilkada, pers, dan masyarakat sipil.

Namun, Indonesia masih bergulat pada level tarekat demokrasi. Yaitu, prosesnya ada, tetapi mutunya belum selalu sehat.

Freedom House menempatkan Indonesia sebagai Partly Free dengan skor 56/100 dalam laporan 2025.

Kebebasan bicara tersedia, tetapi warga masih bisa takut ketika kritiknya menyentuh kekuasaan. Partai politik hidup, tetapi kaderisasi dan ideologi sering kalah oleh pragmatisme elektoral.

Lalu, negara mana yang sebenarnya sudah berada di puncak tertinggi Tasawuf Demokrasi itu?

Benarkah Amerika Serikat yang sering kita sebut sebagai Mbah nya Demokrasi dan simbol demokrasi modern?

Menurut saya, untuk menyebut satu tingkat di atas Indonesia mungkin saja. Yaitu, sudah sampai pada level hakikat. Tetapi, tetap belum pada level Makrifat Demokrasi.

Secara institusional, Amerika kuat: Pemilu rutin, kebebasan pers besar, lembaga hukum mapan, civil society aktif.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: IRA WP

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Tak Cukup Ashabiyah Hambalang

Kamis, 23 Juli 2026 | 08:30 WIB

Ke Baduy Saja, Tak Perlu ke Singapura

Selasa, 21 Juli 2026 | 18:57 WIB

Ketika Sepak Bola Menjadi Sejenis Agama Modern

Senin, 20 Juli 2026 | 12:48 WIB

Rezeki Yang Menular

Senin, 20 Juli 2026 | 09:24 WIB

Simpul Nominee Rumah Sentul

Kamis, 16 Juli 2026 | 08:55 WIB

Jawaban Awal Seputar Jaksa

Sabtu, 11 Juli 2026 | 07:22 WIB

“Seandainya saya Jaksa Agung”

Kamis, 9 Juli 2026 | 14:12 WIB

Mengapa Manusia Suka Menonton Sepak Bola?

Selasa, 7 Juli 2026 | 06:43 WIB
X