Catatan II hari lingkungan hidup sedunia, 5 Juni 2026
Oleh Toto Izul Fatah*
WartaPesona.com - Ada pertanyaan tentang alam yang tak boleh dijawab secara emosional. Kenapa bencana ekologi semakin parah terjadi justru pada saat manusia sudah beragama dan punya kitab suci?
Di sisi lain, para leluhur kuno yang hidup jauh sebelum agama dan kitab suci lahir, justru sangat mencintai dan menghargai alam.
Ini memang pertanyaan yang harus dijawab dengan jujur. Mengapa semangat menjaga alam, hidup selaras dengan alam, hutan, sungai, gunung, dan sejenisnya, justru terasa lebih kuat pada masyarakat kuno dulu?
Baca Juga: Analisis Jaringan Kroni Silmy Karim di Tubuh Imigrasi
Sebaliknya, mengapa setelah agama-agama besar lahir, kitab suci diturunkan, rumah-rumah ibadah dibangun, alam justru kian rusak, hutan dibabat, sungai diracuni, dan hubungan sosial makin keras, bising, dan penuh permusuhan?
Apakah ada yang salah dengan agama?
Apakah kitab suci gagal?
Baca Juga: Mengapa Dolar AS Menembus Rp18.000?
Atau justru manusialah yang tak paham keduanya?
Sekali lagi, kedua pertanyaan tersebut tak boleh dijawab dengan emosi, tapi dengan hati yang jernih.
Sebab jika salah menjawab, kita akan jatuh pada dua masalah ekstrem. Pertama, menyalahkan agama secara membabi buta, dan kedua membela agama secara buta pula sambil menutup mata terhadap kenyataan banyaknya kerusakan ekologis dan sosial yang terjadi.
Baca Juga: Memelihara Harapan di Tengah Kesulitan
Artikel Terkait
Akan Buka-bukaan, Eks Petinggi BGN Sony Sonjaya Bersedia Menjadi Justice Collaborator
Suami Lahir 1984 dan Istri Lahir 1990, Punya 13 Anak
Indonesia Naik Empat Tingkat di FIFA Setelah Menang Melawan Oman
Gerakan Mahasiswa Hidayatullah Gelar Doa Bersama Untuk Indonesia Kuat, Rizki Ulfahadi: Persatuan Kunci Kemajauan
Pemerintah Membuka Ribuan Lowongan Kerja Untuk Warga ber-KTP Jakarta, Bergaji UMR