Oleh Rosadi Jamani*
WartaPesosna.com - Saya ingin membongkar jaringan Silmy Karim di tubuh Imigrasi.
Silmy Karim bukan koruptor solo. Dia adalah otak sekaligus dalang dari jaringan pemerasan sistemik yang sangat terstruktur di Direktorat Jenderal Imigrasi.
Jaringannya bersifat vertikal-top down, mulai dari dirinya sebagai Dirjen (2023-2024) sampai level operasional di lapangan.
Struktur Inti Jaringan (8 tersangka yang sudah ditahan KPK):
- Silmy Karim (SK) — Bos Besar & Penerima Utama. Ia memberi instruksi “setiap klik ada harganya”. Menerima jatah rutin Rp100 juta per minggu (setiap Jumat) bahkan setelah jadi wakil menteri. Dalang utama aliran uang.
- Jaya Saputra (JS) — Tangannya Silmy. Mantan Direktur Izin Tinggal dan Status Keimigrasian, sekarang Kakanwil Imigrasi Jawa Barat. Penghubung utama, Silmy memerintah lewat dia, dia yang menurunkan perintah ke bawah untuk memungut uang “ACC klik”.
- Bagus Bramantyo (BGS) & Tessar Bayu Setyaji (TBS) — Kasubdit di Direktorat Izin Tinggal. Pelaksana lapangan yang langsung memerintahkan pungutan kepada biro jasa dan sponsor WNA.
- Saffar Muhammad Godam (SMG) — Plt. Dirjen Imigrasi 2024-2025. Penerus estafet setelah Silmy naik jadi Wamen.
- Ronald Arman Abdullah (RAA) — Kepala Kantor Imigrasi Jakarta Barat & Jakarta Pusat
Level operasional yang ditangkap OTT, titik awal ledakan kasus ini.
- Juniadi Sri Priambudi — Ketua Tim Alih Status ITAS
- Gusti Benardiansyah — Staf Subdit Izin Tinggal
Karakteristik jaringan:
- Hierarki militeristik: Perintah dari atas (Silmy → Jaya Saputra → Kasubdit → Kantor Wilayah/Kantor Imigrasi). Sangat tertib dan terdisiplin.
- 96 rekening nominee: Melibatkan office boy, cleaning service, keluarga, sampai rekening abal-abal. Ini menunjukkan jaringan sudah sangat matang dalam menyembunyikan jejak uang.
- Skala: Bukan pungutan liar sporadis, tetapi industri yang berjalan bertahun-tahun (2022-2026) dengan target jelas: setiap proses izin tinggal WNA (KITAS, KITAP, alih status, dependent, dll).
- Total kerugian: Rp145,5 miliar sampai ada yang menyebut Rp366 miliar dari analisis PPATK.
Jaringan ini sangat internal Ditjen Imigrasi. Belum ada bukti publik yang kuat tentang kroni di luar imigrasi seperti pengusaha biro jasa besar atau politisi) yang ikut menjadi penerima utama, meski biro jasa WNA pasti jadi korban sekaligus “mitra” pemerasan.
Silmy Karim adalah tipe koruptor sistemik yang membangun kerajaan di dalam institusi.
Dia bukan hanya menerima uang, tetapi menciptakan sistem yang memaksa bawahannya ikut bermain agar roda berputar.
Artikel Terkait
Pemerintah Membuka Ribuan Lowongan Kerja Untuk Warga ber-KTP Jakarta, Bergaji UMR
Kementerian Pertahanan Akan Bentuk Dua Batalion Komponen Cadangan di Setiap Kabupaten/Kota
Kendaraan Bermotor Mewah Harley Davidson, Ducati, dan Porsche di Rumah Silmy Karim Diangkut KPK
Memelihara Harapan di Tengah Kesulitan
Mengapa Dolar AS Menembus Rp18.000?