Kitab Suci di Tengah Bencana Ekologi

photo author
Tim Warta Pesona 01, Warta Pesona
- Sabtu, 6 Juni 2026 | 15:33 WIB
Toto Izul Fatah
Toto Izul Fatah

Dulu, para leluhur tidak punya kitab suci seperti yang kita kenal sekarang, tetapi mereka punya kesadaran kosmik. Mereka tahu bahwa manusia bukan pusat semesta, melainkan bagian dari semesta.

Sedangkan manusia modern, meski mengaku beragama, justru sering merasa menjadi penguasa. Alam diturunkan derajatnya menjadi hanya sebagai benda mati.

Mungkin justru di sinilah ironi terbesar peradaban kita. Leluhur yang belum mengenal agama formal ternyata sering lebih santun kepada alam. Sedangkan manusia yang sudah mengantongi kitab suci justru lebih lihai merusak bumi sambil mengutip ayat.

Ini bukan salah wahyu. Ini salah watak manusia yang menjadikan agama hanya sebagai atribut.

Sudah saatnya agama dipulangkan lagi ke ruh asalnya. Yaitu,  membentuk manusia yang rendah hati di hadapan Tuhan, lembut kepada sesama, dan penuh hormat kepada alam.***

*Toto Izul Fatah ialah Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA dan Ketua Umum IKA PP Ibadurrahman YLPI Tegalega Sukabumi, Jawa Barat

Artikel opini tersebut tidak mewakili pandangan redaksi

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: IRA WP

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kitab Suci di Tengah Bencana Ekologi

Sabtu, 6 Juni 2026 | 15:33 WIB
X