Dulu, para leluhur tidak punya kitab suci seperti yang kita kenal sekarang, tetapi mereka punya kesadaran kosmik. Mereka tahu bahwa manusia bukan pusat semesta, melainkan bagian dari semesta.
Sedangkan manusia modern, meski mengaku beragama, justru sering merasa menjadi penguasa. Alam diturunkan derajatnya menjadi hanya sebagai benda mati.
Mungkin justru di sinilah ironi terbesar peradaban kita. Leluhur yang belum mengenal agama formal ternyata sering lebih santun kepada alam. Sedangkan manusia yang sudah mengantongi kitab suci justru lebih lihai merusak bumi sambil mengutip ayat.
Ini bukan salah wahyu. Ini salah watak manusia yang menjadikan agama hanya sebagai atribut.
Sudah saatnya agama dipulangkan lagi ke ruh asalnya. Yaitu, membentuk manusia yang rendah hati di hadapan Tuhan, lembut kepada sesama, dan penuh hormat kepada alam.***
*Toto Izul Fatah ialah Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA dan Ketua Umum IKA PP Ibadurrahman YLPI Tegalega Sukabumi, Jawa Barat
Artikel opini tersebut tidak mewakili pandangan redaksi
Artikel Terkait
Akan Buka-bukaan, Eks Petinggi BGN Sony Sonjaya Bersedia Menjadi Justice Collaborator
Suami Lahir 1984 dan Istri Lahir 1990, Punya 13 Anak
Indonesia Naik Empat Tingkat di FIFA Setelah Menang Melawan Oman
Gerakan Mahasiswa Hidayatullah Gelar Doa Bersama Untuk Indonesia Kuat, Rizki Ulfahadi: Persatuan Kunci Kemajauan
Pemerintah Membuka Ribuan Lowongan Kerja Untuk Warga ber-KTP Jakarta, Bergaji UMR