Level ini penting, karena tanpa Syariat Demokrasi, negara akan jatuh ke dalam kekacauan. Tetapi berhenti di sini berbahaya. Sebab demokrasi bisa berubah menjadi ritual lima tahunan tanpa jiwa.
Baca Juga: Dua Remaja Bersepeda Motor Ugal-ugalan Sengaja Tabrak Warga Desa
Pemilu ada, tetapi kecurangan tetap berlangsung. Partai ada, tetapi kaderisasi mati. DPR ada, tetapi suara rakyat tidak sungguh-sungguh didengar. Kebebasan bicara ada, tetapi kritik mudah dibungkam. Di sini, demokrasi baru menjadi perbuatan, belum menjadi kesadaran.
Level kedua adalah Tarekat Demokrasi. Ini adalah jalan kecil, proses panjang, latihan sosial, dan disiplin kolektif untuk menjalani demokrasi secara benar.
Pada tahap ini, demokrasi tidak cukup hanya punya aturan.
Jika Syariat Demokrasi bertanya, “Apakah pemilu sudah ada?”, maka Tarekat Demokrasi bertanya, “Apakah prosesnya jujur, adil, sehat, dan mendidik?”
Banyak negara berhenti di level ini.
Pemilunya rutin, tetapi politik uang masih kuat. Debat publik ada, tetapi isinya lebih banyak caci maki. Partai politik tumbuh, tetapi sering menjadi kendaraan elite. Hukum berjalan, tetapi kadang terasa tajam kepada lawan dan tumpul kepada kawan.
Level ketiga adalah Hakikat Demokrasi. Ini adalah saat demokrasi tidak lagi dipahami sebagai beban aturan, melainkan sebagai kebutuhan batin bernegara.
Pada level ini, warga menyadari bahwa menghormati suara orang lain bukan karena takut undang-undang, melainkan karena sadar bahwa setiap manusia punya martabat.
Begitu juga dengan pemilih tidak menjual suara bukan karena takut razia, tetapi karena sadar bahwa suara adalah harga diri.
Partai tidak mencurangi pemilu bukan karena takut sanksi, tetapi karena sadar bahwa kecurangan adalah pengkhianatan terhadap rakyat.
Inilah inti hakikat demokrasi. Yaitu, demokrasi sebagai kesadaran moral. Dan demokrasi tidak hanya menjadi sistem, tetapi menjadi nilai.
Puncaknya adalah Makrifat Demokrasi. Inilah yang dapat disebut sebagai puncak dari Tasawuf Demokrasi.
Pada level ini, tidak ada lagi jarak batin antara yang memerintah dan yang diperintah.