Ke Baduy Saja, Tak Perlu ke Singapura

photo author
Tim Warta Pesona 01, Warta Pesona
- Selasa, 21 Juli 2026 | 18:57 WIB

Baca Juga: Houthi yang Didukung Iran Umumkan Blokade Laut Untuk Arab Saudi

Di sana mereka dapat belajar bagaimana masyarakat hidup sederhana, tidak serakah, tidak mengambil hak orang lain, dan memegang teguh aturan adat atau pikukuh.

Masyarakat Baduy menunjukkan bahwa ketertiban tidak selalu lahir dari banyaknya undang-undang, tebalnya pasal, atau canggihnya teknologi pengawasan.

Ketertiban menjadi kuat ketika nilai kejujuran telah hidup di dalam hati dan menjadi budaya bersama.

Mereka menahan diri untuk tidak mengambil barang atau hak orang lain bukan hanya karena takut kepada aparat. Mereka percaya bahwa pelanggaran terhadap aturan adat akan membawa akibat moral, sosial, dan spiritual.

Baca Juga: Houthi yang Didukung Iran Umumkan Blokade Laut Untuk Arab Saudi

Ada rasa malu kepada masyarakat. Ada rasa takut melanggar amanat leluhur. Ada keyakinan bahwa perbuatan buruk akan membawa akibat buruk pula.

Itulah pelajaran yang justru semakin hilang dalam kehidupan birokrasi modern kita.

Sekarang, para koruptor itu bukan orang bodoh. Mereka adalah orang-orang berpendidikan tinggi, memahami hukum, mengerti prosedur anggaran, dan mengetahui celah birokrasi.

Mereka melakukan korupsi bukan karena tidak mengetahui aturan, tetapi karena pengetahuan tidak lagi dikendalikan oleh moral.

Mereka juga korupsi bukan karena lapar dan miskin. Tetapi, mereka korup karena ingin memperkaya diri. Mereka serakah dan selalu merasa tidak cukup alias tidak bersyukur.

Karena itu, pemberantasan korupsi tidak cukup dilakukan melalui seminar, pelatihan, studi banding, atau kunjungan ke luar negeri.

Seorang kepala daerah tidak akan takut melakukan korupsi hanya karena pernah belajar di kampus terkenal di Singapura.

Ia baru akan berpikir seribu kali apabila mengetahui bahwa setiap transaksi diawasi, konflik kepentingan diperiksa, hasil korupsi dirampas, jabatan dicopot, dan proses hukum tidak bisa dihentikan melalui lobi politik.

Keberhasilan Singapura dalam menekan korupsi bukan semata-mata karena mereka memiliki teori yang lebih hebat. Banyak negara mempunyai teori serupa, tapi hasilnya berbeda.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: IRA WP

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Ke Baduy Saja, Tak Perlu ke Singapura

Selasa, 21 Juli 2026 | 18:57 WIB

Ketika Sepak Bola Menjadi Sejenis Agama Modern

Senin, 20 Juli 2026 | 12:48 WIB

Rezeki Yang Menular

Senin, 20 Juli 2026 | 09:24 WIB

Simpul Nominee Rumah Sentul

Kamis, 16 Juli 2026 | 08:55 WIB

Jawaban Awal Seputar Jaksa

Sabtu, 11 Juli 2026 | 07:22 WIB

“Seandainya saya Jaksa Agung”

Kamis, 9 Juli 2026 | 14:12 WIB

Mengapa Manusia Suka Menonton Sepak Bola?

Selasa, 7 Juli 2026 | 06:43 WIB

Hantu Selembar Ijazah

Senin, 6 Juli 2026 | 07:06 WIB
X