Baca Juga: Houthi yang Didukung Iran Umumkan Blokade Laut Untuk Arab Saudi
Di sana mereka dapat belajar bagaimana masyarakat hidup sederhana, tidak serakah, tidak mengambil hak orang lain, dan memegang teguh aturan adat atau pikukuh.
Masyarakat Baduy menunjukkan bahwa ketertiban tidak selalu lahir dari banyaknya undang-undang, tebalnya pasal, atau canggihnya teknologi pengawasan.
Ketertiban menjadi kuat ketika nilai kejujuran telah hidup di dalam hati dan menjadi budaya bersama.
Mereka menahan diri untuk tidak mengambil barang atau hak orang lain bukan hanya karena takut kepada aparat. Mereka percaya bahwa pelanggaran terhadap aturan adat akan membawa akibat moral, sosial, dan spiritual.
Baca Juga: Houthi yang Didukung Iran Umumkan Blokade Laut Untuk Arab Saudi
Ada rasa malu kepada masyarakat. Ada rasa takut melanggar amanat leluhur. Ada keyakinan bahwa perbuatan buruk akan membawa akibat buruk pula.
Itulah pelajaran yang justru semakin hilang dalam kehidupan birokrasi modern kita.
Sekarang, para koruptor itu bukan orang bodoh. Mereka adalah orang-orang berpendidikan tinggi, memahami hukum, mengerti prosedur anggaran, dan mengetahui celah birokrasi.
Mereka melakukan korupsi bukan karena tidak mengetahui aturan, tetapi karena pengetahuan tidak lagi dikendalikan oleh moral.
Mereka juga korupsi bukan karena lapar dan miskin. Tetapi, mereka korup karena ingin memperkaya diri. Mereka serakah dan selalu merasa tidak cukup alias tidak bersyukur.
Karena itu, pemberantasan korupsi tidak cukup dilakukan melalui seminar, pelatihan, studi banding, atau kunjungan ke luar negeri.
Seorang kepala daerah tidak akan takut melakukan korupsi hanya karena pernah belajar di kampus terkenal di Singapura.
Ia baru akan berpikir seribu kali apabila mengetahui bahwa setiap transaksi diawasi, konflik kepentingan diperiksa, hasil korupsi dirampas, jabatan dicopot, dan proses hukum tidak bisa dihentikan melalui lobi politik.
Keberhasilan Singapura dalam menekan korupsi bukan semata-mata karena mereka memiliki teori yang lebih hebat. Banyak negara mempunyai teori serupa, tapi hasilnya berbeda.
Artikel Terkait
Ketika Sepak Bola Menjadi Sejenis Agama Modern
Konsumsi Teh Tiap Hari Cegah Stroke dan Penyakit Pembuluh Darah
KPK Kabarnya Menjalankan OTT Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini
Persatuan Wartawan Indonesia Melaporkan Pengacara Hotman Paris ke Kepolisian
Jalan HR Rasuna Said Rawan Penjambretan, Lelaki Pejalan Kaki Jadi Korban