Rezeki Yang Menular

photo author
Tim Warta Pesona 01, Warta Pesona
- Senin, 20 Juli 2026 | 09:24 WIB

Kita membayar hak siar. Kita membeli televisi dan paket data. Kita membeli jersey. Kita mengonsumsi iklan. Kita membuat acara nobar. Kita memesan makanan. Kita menulis berita. Kita membuat konten. Kita menghabiskan waktu berjam-jam membicarakan Messi, Mbappé, Spanyol, Argentina, Inggris, dan Perancis.

Artinya, kita sudah menjadi bagian dari ekonomi piala dunia.

Pertanyaannya: bagian yang mana?

Apakah kita hanya berada di ujung rantai sebagai konsumen?

Apakah tugas kita hanya menonton produk yang diciptakan orang lain, membeli jersey yang mereknya dimiliki orang lain, membayar hak siar kepada pemilik hak di luar negeri, dan memberikan perhatian yang kemudian dimonetisasi perusahaan global?

Indonesia memiliki lebih dari 280 juta penduduk, basis penggemar sepak bola yang luar biasa besar, industri tekstil, ekonomi digital, sektor pariwisata, industri kreatif, dan puluhan juta usaha mikro dan kecil.

Mestinya olahraga tidak lagi dipandang sekadar urusan medali, klasemen, dan apakah tim nasional lolos atau tidak.

Olahraga adalah ekosistem ekonomi. Ada industri perlengkapan olahraga, akademi pemain, sports science, manajemen klub, penyiaran, produksi konten, teknologi pertandingan, analitik data, pariwisata olahraga, merchandising, pengelolaan stadion, industri makanan, transportasi, dan ekonomi komunitas.

Kita tidak harus menunggu Indonesia masuk final Piala Dunia untuk membangun semua itu. Yang diperlukan adalah liga domestik yang sehat dan dipercaya, klub yang dikelola profesional, stadion yang hidup bukan hanya ketika ada pertandingan besar.

Kita juga perlu industri merchandise resmi yang memberi nilai tambah kepada klub, akademi yang terhubung dengan pendidikan, sports science yang serius, data dan teknologi olahraga yang dikembangkan sendiri, serta UMKM yang secara sadar dimasukkan ke dalam rantai ekonomi pertandingan.

Sebab pelajaran Piala Dunia 2026 sangat sederhana: yang bermain memang 22 orang, tetapi yang dapat memperoleh rezeki bisa berjuta-juta orang.

Senin dini hari itu, setelah Spanyol mengalahkan Argentina dengan skor 1-0, dunia akhirnya mengetahui siapa juara Piala Dunia 2026.

FIFA menyerahkan trofi yang emasnya bernilai sekitar US$713 ribu. Sang juara memperoleh hadiah prestasi US$50 juta.

Masih di lapangan, para pemain berfoto. Konfeti turun. Jutaan telepon genggam mengabadikan momen itu. Beberapa jam kemudian stadion mulai kosong. Tetapi uang yang digerakkan oleh turnamen itu belum berhenti berjalan.

Ia berpindah dari FIFA ke federasi, dari televisi ke pemegang hak, dari sponsor ke media, dari wisatawan ke hotel, dari penumpang ke maskapai, dari penonton ke restoran, dari pelanggan ke operator internet, dari orang yang nobar ke warung kopi.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: IRA WP

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Rezeki Yang Menular

Senin, 20 Juli 2026 | 09:24 WIB

Simpul Nominee Rumah Sentul

Kamis, 16 Juli 2026 | 08:55 WIB

Jawaban Awal Seputar Jaksa

Sabtu, 11 Juli 2026 | 07:22 WIB

“Seandainya saya Jaksa Agung”

Kamis, 9 Juli 2026 | 14:12 WIB

Mengapa Manusia Suka Menonton Sepak Bola?

Selasa, 7 Juli 2026 | 06:43 WIB

Hantu Selembar Ijazah

Senin, 6 Juli 2026 | 07:06 WIB

Melampaui Hukum

Rabu, 1 Juli 2026 | 08:26 WIB
X