Kansas City, misalnya, mengalokasikan US$25,8 juta uang pembayar pajak untuk fasilitas penahanan sementara guna mengantisipasi pengunjung bermasalah, sementara Jackson County mengalokasikan US$42,5 juta dana negara bagian untuk renovasi stadion.
Ada pula pendapatan yang sengaja tidak dipungut. Analisis yang dikutip Forbes memperkirakan Florida, Georgia, dan Missouri melepaskan potensi penerimaan pajak penjualan tiket sekitar US$57,8 juta melalui berbagai pembebasan yang diberikan dalam rangka menjadi tuan rumah.
Maka, menghitung ekonomi piala dunia hanya dari berapa banyak uang yang berputar sama kelirunya dengan menentukan pemenang pertandingan hanya dari berapa kali sebuah tim menendang bola.
Yang penting bukan sekadar berapa banyak uang bergerak, melainkan dari kantong siapa ia keluar, ke kantong siapa ia masuk, dan berapa banyak yang tertinggal setelah pesta selesai.
Ada satu contoh kecil yang hampir jenaka. Stadion tempat final berlangsung sehari-hari dikenal sebagai MetLife Stadium. Forbes memperkirakan perusahaan asuransi MetLife membayar sekitar US$19 juta setahun untuk hak penamaan stadion itu sebagai bagian dari kontrak jangka panjang.
Tetapi selama piala dunia, karena aturan komersial FIFA, nama sponsor stadion disingkirkan dan tempat itu disebut New York New Jersey Stadium. Bayangkan. Anda membayar jutaan dolar agar nama perusahaan terpampang di sebuah stadion. Ketika pertandingan paling banyak ditonton manusia datang ke stadion itu, nama Anda justru ditutup.
Dalam sepak bola, rupanya bukan hanya pemain yang bisa terkena offside. Sponsor pun bisa.
Ada lagi sungai uang yang mengalir lebih gelap: taruhan. Forbes mencatat volume perdagangan berkait piala dunia pada platform pasar prediksi Kalshi dan Polymarket mencapai sekitar US$5,4 miliar hanya dalam pekan pertama turnamen.
Volume Kalshi sepanjang piala dunia kemudian disebut mencapai angka jauh lebih besar, sementara sebuah firma riset sebelumnya memproyeksikan sekitar US$4,4 miliar akan dipertaruhkan melalui sportsbook daring di Amerika Serikat selama turnamen, naik dari sekitar US$1,8 miliar pada 2022.
Angka-angka ini harus dibaca hati-hati. Uang taruhan bukan otomatis penciptaan nilai ekonomi baru. Sering kali ia hanya memindahkan uang dari kantong yang kalah ke kantong yang menang — dan selalu menyisakan bagian bagi penyelenggara.
Di balik kegembiraan menebak skor, ada pula risiko kecanduan dan kerugian rumah tangga yang tidak pernah tampil dalam iklan. Ekonomi memang bergerak, tetapi tidak semua yang bergerak membawa kesejahteraan.
Dan, di sinilah kita sampai pada ekonomi piala dunia yang paling menarik. Saya menyebutnya ekonomi yang tak pernah masuk neraca. Tidak ada laporan tahunan FIFA yang mencatat berapa tambahan omzet warung kopi di Surabaya karena Argentina bermain pukul dua dini hari.
Tidak ada statistik turnamen yang menghitung berapa bungkus mi instan direbus menjelang kick-off di Jakarta, berapa liter kopi diseduh di Makassar, berapa piring nasi goreng dipesan di Bandung, atau berapa bakwan habis di sebuah acara nobar di kampung.
Tidak ada tabel FIFA yang mencatat penyewaan proyektor, layar, pengeras suara, kursi plastik, tenda, dan genset. Tidak dihitung berapa tukang parkir memperoleh tambahan penghasilan.
Tak ada catatan berapa pengemudi ojek mengantar orang pulang setelah adu penalti. Berapa penjual jersey mendapat pembeli. Berapa paket data internet terjual. Berapa kreator konten memperoleh jutaan views dari membicarakan satu gol.
Artikel Terkait
PWI Mengecam Pernyataan Hotman Paris Hutapea
Netizen Pasangankan Anies Baswedan dan Pramono Anung di Pilpres 2029
Stjepan Loncar Asal Bosnia-Herzegovina yang Perkuat Persija Jakarta Jadi Pemain Termahal di Super League
Pemain Terbaik Super League Mariano Peralta dari Borneo FC Berlabuh ke Persib Bandung
Beberapa Perusahaan Penerbangan Membatalkan Layanan Mereka ke Kawasan Teluk