Sepak bola yang lahir sebagai permainan rakyat akhirnya menemukan ironi kapitalismenya: semua orang boleh mencintainya, tetapi tidak semua orang mampu duduk dekat dengannya.
Bagi yang uangnya lebih tebal, masih ada kelas di atas kelas. Bahan yang dihimpun Forbes mencatat paket tempat duduk di sisi lapangan dapat dimulai dari US$1 juta untuk kelompok 12 orang. Suite untuk 24 orang mulai sekitar US$1,44 juta.
Bahkan kesempatan berada di lapangan ketika trofi diserahkan ditawarkan hingga US$600 ribu per orang. Kalau seseorang masih bertanya apakah sepak bola merupakan olahraga atau bisnis, mungkin jawabannya sederhana: tergantung ia menontonnya dari tribun mana.
Setelah membeli tiket, dompet belum boleh istirahat. Penonton harus naik pesawat, tidur di hotel, makan, minum, dan bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Forbes mencatat tarif hotel pada hari pertandingan dapat sekitar 50 persen lebih mahal.
Parkir di Los Angeles dilaporkan dapat mencapai US$300 untuk satu pertandingan. Segelas bir di sejumlah lokasi bisa berharga US$20 lebih. Bahkan perjalanan kereta pulang-pergi dari Penn Station, New York, menuju stadion di New Jersey disebut mencapai US$98.
Masih ada cara lain mengubah kegembiraan menjadi transaksi. Seorang penggemar dapat membayar sekitar US$79 plus pajak agar namanya muncul di layar video stadion melalui program Super Shoutout. Dahulu orang datang ke stadion untuk melihat pemain. Sekarang, kalau bersedia membayar, orang juga dapat membeli kesempatan agar stadion melihat dirinya.
Begitulah "industri perhatian" bekerja. Sebab komoditas paling berharga di piala dunia bukan sebenarnya bola, tiket, atau trofi. Yang diperdagangkan adalah perhatian manusia.
Pada Piala Dunia Qatar 2022, hampir 1,5 miliar orang menyaksikan final. Untuk 104 pertandingan Piala Dunia 2026, jangkauan global diperkirakan melampaui 5 miliar penonton secara kumulatif, sementara Bank of America memperkirakan pertandingan final dapat menyedot hingga 7 persen lalu lintas internet dunia.
Di Amerika Serikat saja, pertandingan pembuka tuan rumah ditonton rata-rata sekitar 18 juta orang melalui Fox. Ini sebuah rekor untuk siaran berbahasa Inggris pertandingan sepak bola putra di negara itu pada saat angka tersebut dicatat.
Bayangkan miliaran pasang mata menatap peristiwa yang sama. Perhatian yang biasanya tercerai-berai antara TikTok, YouTube, Netflix, Instagram, gim, podcast, dan ribuan kanal televisi tiba-tiba berkumpul pada sebidang lapangan berukuran kira-kira 105 kali 68 meter.
Bagi pengiklan, keadaan seperti itu lebih langka daripada emas yang menjadi bahan trofi Piala Dunia.
Itulah yang disebut attention economy — ekonomi perhatian. Pertandingan memang dimainkan oleh 22 orang, tetapi produk komersial sebenarnya adalah perhatian miliaran manusia.
FIFA menjual hak siar. Televisi membeli hak itu lalu menjual perhatian penonton kepada pengiklan. Sponsor membeli asosiasi merek. Platform digital memperoleh lalu lintas. Operator telekomunikasi menjual data. Media memperoleh pembaca. Kreator konten mendapat views. Sebuah bola ditendang di New Jersey, jutaan mesin kasir berbunyi di seluruh dunia.
Di Indonesia, angka sekitar Rp1,3 triliun sempat ramai dibicarakan sebagai biaya hak siar yang dikaitkan dengan TVRI. Angka itu perlu ditempatkan secara tepat: menurut penjelasan TVRI yang beredar, nilai tersebut bukan semata-mata untuk Piala Dunia 2026.
Biaya itu mencakup paket hak siar beberapa kompetisi FIFA hingga 2027, termasuk Piala Dunia U-17 2026 dan Piala Dunia Wanita 2027. Namun, angka itu tetap memberi gambaran betapa mahalnya satu hak yang terdengar sederhana: hak untuk melihat orang lain menendang bola secara langsung dari ruang keluarga kita sendiri.
Artikel Terkait
PWI Mengecam Pernyataan Hotman Paris Hutapea
Netizen Pasangankan Anies Baswedan dan Pramono Anung di Pilpres 2029
Stjepan Loncar Asal Bosnia-Herzegovina yang Perkuat Persija Jakarta Jadi Pemain Termahal di Super League
Pemain Terbaik Super League Mariano Peralta dari Borneo FC Berlabuh ke Persib Bandung
Beberapa Perusahaan Penerbangan Membatalkan Layanan Mereka ke Kawasan Teluk