Tobat Nasional: Jalan Sunyi Selamatkan Bangsa dan Negara

photo author
Tim Warta Pesona 01, Warta Pesona
- Jumat, 29 Mei 2026 | 14:09 WIB
Toto Izul Fatah.
Toto Izul Fatah.

Anggaran apa lagi yang harus ditambah?

Regulasi apa lagi yang harus diterbitkan?

Pertanyaan yang lebih dalam adalah: apa yang salah dari jiwa bangsa ini?

Dalam konteks inilah, gagasan tobat nasional menjadi penting, relevan dan kontekstual. Tentu, dalam arti, bahwa Taubat Nasional bukan sekadar istighosah. Bukan pula sekadar doa bersama. Meskipun, tak ada yang salah dengan doa.

Adapaun yang dimaksud dengan tobat nasional adalah keberanian moral untuk berkata secara berjamaah, bahwa kami mengaku salah, Ya Tuhan. Kami telah merusak amanah. Kami telah menukar kebenaran dengan kepentingan. Kami telah mengkhianati rakyat kecil. Kami telah terlalu sombong sebagai bangsa.

Oleh karena itu, Taubat Nasional bukan seremoni keagamaan biasa. Ia harus menjadi gerakan batin bangsa.

Presiden, menteri, pejabat, pengusaha, aparat, elite partai, akademisi, tokoh agama, para pendidik, media, hingga rakyat biasa perlu masuk ke ruang kejujuran yang sama,  bahwa sebagian dari kerusakan negeri ini tidak lahir dari kurangnya program, tetapi dari hilangnya kebeningan hati. Yaitu, hati yang selalu terbuka untuk hadirnya Tuhan dalam diri.

Kebijakan yang menyakiti rakyat bukan semata soal salah hitung teknokratis. Ia juga soal tumpulnya empati.

Maka pendekatan spiritual bukan berarti menggantikan pendekatan kebijakan.

Negara tetap wajib bekerja secara lahiriah dengan membenahi tata kelola, memperkuat pengawasan, menegakkan hukum, memperbaiki distribusi pangan, menjaga daya beli, mengevaluasi MBG, mengawasi Koperasi Merah Putih, dan program-program lainnya.

Tetapi, semua kerja lahir itu akan mudah rusak jika tidak disertai pembersihan batin. Di situlah pentingnya tobat nasional. Yaitu, tobat yang membuat para elite berhenti merasa paling benar. Pejabat berhenti menjadikan jabatan sebagai alat menumpuk kuasa. Dan pengusaha berhenti membeli kebijakan.

Begitu pun, tokoh agama berhenti "menjual Tuhan" untuk kepentingan dunia. Rakyat pun berhenti membenarkan kecurangan kecil hanya karena belum mendapat kesempatan berbuat curang yang besar. Inilah makna terdalam tobat nasional.

Dalam bahasa agama, tobat membuka pintu rahmat. Dalam bahasa sosial, tobat memulihkan kepercayaan. Dalam bahasa politik, tobat memperbaiki legitimasi. Dalam bahasa kebangsaan, tobat mengembalikan arah moral republik.

Oleh karena itu, tobat nasional tidak boleh dipahami sebagai pelarian dari kerja nyata. Ia justru fondasi terdalam dari kerja nyata. Tanpa tobat, kebijakan mudah menjadi proyek.

Tanpa tobat, program rakyat mudah berubah menjadi panggung pencitraan. Tanpa tobat, anggaran bisa menjadi lahan korupsi.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: IRA WP

Tags

Rekomendasi

Terkini

Simpul Nominee Rumah Sentul

Kamis, 16 Juli 2026 | 08:55 WIB

Jawaban Awal Seputar Jaksa

Sabtu, 11 Juli 2026 | 07:22 WIB

“Seandainya saya Jaksa Agung”

Kamis, 9 Juli 2026 | 14:12 WIB

Mengapa Manusia Suka Menonton Sepak Bola?

Selasa, 7 Juli 2026 | 06:43 WIB

Hantu Selembar Ijazah

Senin, 6 Juli 2026 | 07:06 WIB

Melampaui Hukum

Rabu, 1 Juli 2026 | 08:26 WIB

Negara Bukan Pemilik Tanah Adat

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:05 WIB
X