Keempat, sangat mungkin ada kerinduan kepada bangkitnya etika Sunda yang ramah pada alam dan manusia. Yaitu, ajaran tentang silih asah, silih asih, silih asuh, juga welas asih, kesederhanaan, keterbukaan, dan penghormatan pada lingkungan.
Ini tentu bukan sekadar romantisme budaya. Ketika orang melihat sebuah kampung yang bersih, tertata, hidup, ramai, dan ekonominya ikut bergerak, mereka sesungguhnya sedang melihat bahwa nilai-nilai kultural bisa punya bentuk praktis.
Lembur Pakuan memberi pesan sederhana namun kuat, bahwa kampung bisa menjadi magnet; budaya pun bisa menjadi energi pembangunan; dan kepemimpinan pun bisa terasa hangat, bukan dingin.
Dalam persfektif yang lebih luas, fenomena Lembur Pakuan menjadi relevan untuk kepentingan nasional.
Pertama, ia memberi pelajaran bahwa pembangunan nasional tidak selalu harus dimulai dari megaproyek.
Kadang-kadang yang paling kuat justru contoh mikro yang bisa direplikasi seperti kampung tertata, pertanian organik berjalan, wisata tumbuh, UMKM hidup, dan budaya bergerak.
Kedua, fenomena ini penting bagi agenda nasional tentang revitalisasi desa. Indonesia terlalu lama memandang desa hanya sebagai objek bantuan atau daerah tertinggal yang harus “disusul” kota.
Ketiga, ini relevan dengan kebutuhan Indonesia untuk membangun modernitas yang tidak tercerabut dari kebudayaan. Bangsa ini tidak akan kuat jika modern hanya dalam gedung, tetapi rapuh dalam nilai.
Dalam kaitan inilah, sekali lagi, fenomena Lembur Pakuan harus dibaca luas. Ia telah tumbuh menjadi tanda zaman, bahwa rakyat sesungguhnya sedang mencari lebih dari sekadar tontonan.
Mereka sedang mencari teladan. Dan ketika teladan itu terlihat, walau hanya dari sebuah kampung di Subang, orang akan datang berbondong-bondong, sebab di sana mereka merasa menemukan sesuatu yang langka, yaitu “harapan”.***
*Toto Izul Fatah ialah Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSi Denny JA dan Ketua Umum IKA PP Ibadurrahman YLPI Tegalega Sukabumi, Jawa Barat
Artikel Terkait
Hasil Quick Count Pilgub Jabar 2024: Dedi Mulyadi-Erwan Setiawan Menuju Kemenangan
Pernikahan Putra Dedi Mulyadi dan Wabup Garut Disambut Hangat Publik, Simbol Perpaduan Dua Tokoh Muda Daerah
Bencana Longsor Bandung Barat : Dedi Mulyadi Kritik Alih Fungsi Kawasan Pegunungan
Dedi Mulyadi, Melawan Mitos Tentang Sunda
Gebernur Jawa Barat Dedi Mulyadi Dukung Kajian Akademik Prasasti Batu Tulis dan Binokasih