PSI Hidup di Persimpangan Magnet Jokowi

photo author
Tim Warta Pesona 01, Warta Pesona
- Senin, 4 Mei 2026 | 13:53 WIB
Partai Solidarits Indonesia (PSI). (Instagram @psi_id)
Partai Solidarits Indonesia (PSI). (Instagram @psi_id)

Oleh Toto Izul Fatah*

WartaPesona.com – Partai Solidarits Indonesia (PSI) sedang berdiri di persimpangan yang menentukan. Naik kelas menjadi partai sungguhan yang mandiri, atau tetap menjadi partai yang hidup dari pantulan magnet Joko Widodo akrab disapa Jokowi.

Data elektoral partai berlogo gajah merah hitam itu sebenarnya memberi petunjuk yang terang. Pada Pemilu 2019, PSI meraih sekitar 2.650.361 suara atau 1,89 peren. Pada Pimilu 2024, suaranya naik menjadi sekitar 4.260.169 atau 2,81 persen.

Secara matematis, itu pertumbuhan. Tetapi secara politik, itu belum cukup. PSI tetap gagal menembus ambang batas parlemen 4 persen, sedangkan total suara sah nasional Pemilu 2024 mencapai 151.796.631.

Baca Juga: Pernah 14 kali Menikah, Fina 46 Tahun Menikah Lagi dengan Pemuda 24 Tahun

Artinya, PSI masih berjarak sekitar 1,19 poin—atau kira-kira 1,8 juta suara—dari pintu Senayan. Jadi, PSI boleh mengklaim membesar, tetapi belum berhak mengklaim mapan dan aman.

Pada titik inilah, pertanyaan paling jujur harus diajukan.  Apakah PSI hari ini benar-benar partai, atau baru sekadar kendaraan yang tampak modern?

Selama ini, energi terbesar PSI bukan lahir dari kekuatan organisasi, bukan pula dari basis sosial yang kukuh, melainkan dari kedekatannya dengan orbit Jokowi.

Fakta formalnya sudah terang, bahwa kepengurusan pusat PSI sekarang ini dipimpin Kaesang Pangarep sebagai ketua umum, sosok yang nilai politiknya hampir tak mungkin dipisahkan dari nama besar ayahnya, Joko Widodo.

Baca Juga: Pramono Anung Undang Presiden Prabowo Subianto Resmikan Wajah Baru Jalan HR Rasuna Said Jakarta

Oleh karena itu, terlalu naif bila ada yang mengatakan bahwa hubungan PSI dan Jokowi hanya emosional biasa. Tidak. Itu hubungan struktural dalam persepsi publik.

PSI dipandang sebagai partai yang sebagian napas politiknya diisi oleh efek Jokowi. Dalam bahasa yang lebih telanjang: separuh nyawa PSI memang ada pada magnet Jokowi.

Masalahnya, partai yang menggantungkan hidup pada magnet satu figur selalu menghadapi kutukan yang sama: ketika pesona figur itu menurun, partai ikut gemetar.

Tetapi, apakah Jokowi sudah habis? Belum tentu.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: IRA WP

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Simpul Nominee Rumah Sentul

Kamis, 16 Juli 2026 | 08:55 WIB

Jawaban Awal Seputar Jaksa

Sabtu, 11 Juli 2026 | 07:22 WIB

“Seandainya saya Jaksa Agung”

Kamis, 9 Juli 2026 | 14:12 WIB

Mengapa Manusia Suka Menonton Sepak Bola?

Selasa, 7 Juli 2026 | 06:43 WIB

Hantu Selembar Ijazah

Senin, 6 Juli 2026 | 07:06 WIB

Melampaui Hukum

Rabu, 1 Juli 2026 | 08:26 WIB
X