Oleh Toto Izul Fatah*
WartaPesona.com – Partai Solidarits Indonesia (PSI) sedang berdiri di persimpangan yang menentukan. Naik kelas menjadi partai sungguhan yang mandiri, atau tetap menjadi partai yang hidup dari pantulan magnet Joko Widodo akrab disapa Jokowi.
Data elektoral partai berlogo gajah merah hitam itu sebenarnya memberi petunjuk yang terang. Pada Pemilu 2019, PSI meraih sekitar 2.650.361 suara atau 1,89 peren. Pada Pimilu 2024, suaranya naik menjadi sekitar 4.260.169 atau 2,81 persen.
Secara matematis, itu pertumbuhan. Tetapi secara politik, itu belum cukup. PSI tetap gagal menembus ambang batas parlemen 4 persen, sedangkan total suara sah nasional Pemilu 2024 mencapai 151.796.631.
Baca Juga: Pernah 14 kali Menikah, Fina 46 Tahun Menikah Lagi dengan Pemuda 24 Tahun
Artinya, PSI masih berjarak sekitar 1,19 poin—atau kira-kira 1,8 juta suara—dari pintu Senayan. Jadi, PSI boleh mengklaim membesar, tetapi belum berhak mengklaim mapan dan aman.
Pada titik inilah, pertanyaan paling jujur harus diajukan. Apakah PSI hari ini benar-benar partai, atau baru sekadar kendaraan yang tampak modern?
Selama ini, energi terbesar PSI bukan lahir dari kekuatan organisasi, bukan pula dari basis sosial yang kukuh, melainkan dari kedekatannya dengan orbit Jokowi.
Fakta formalnya sudah terang, bahwa kepengurusan pusat PSI sekarang ini dipimpin Kaesang Pangarep sebagai ketua umum, sosok yang nilai politiknya hampir tak mungkin dipisahkan dari nama besar ayahnya, Joko Widodo.
Baca Juga: Pramono Anung Undang Presiden Prabowo Subianto Resmikan Wajah Baru Jalan HR Rasuna Said Jakarta
Oleh karena itu, terlalu naif bila ada yang mengatakan bahwa hubungan PSI dan Jokowi hanya emosional biasa. Tidak. Itu hubungan struktural dalam persepsi publik.
PSI dipandang sebagai partai yang sebagian napas politiknya diisi oleh efek Jokowi. Dalam bahasa yang lebih telanjang: separuh nyawa PSI memang ada pada magnet Jokowi.
Masalahnya, partai yang menggantungkan hidup pada magnet satu figur selalu menghadapi kutukan yang sama: ketika pesona figur itu menurun, partai ikut gemetar.
Tetapi, apakah Jokowi sudah habis? Belum tentu.
Artikel Terkait
Wakil Gubrnur Rano Karno: Jakarta Gandeng Kementerian PU Bangun Instalasi Pengolahan Air
Menjadi Penulis di Era Artificial Intelligence
Jadwal Super League: Persik Kediri vs Arema FC di Indosiar Minggu sore
Dedi Mulyadi, melawan mitos tentang Sunda
Pendiri dan Pemilik Barito Group Prajogo Pangestu jadi orang terkaya di Indonesia 2026 Versi Forbes