Dedi Mulyadi, Melawan Mitos Tentang Sunda

photo author
Tim Warta Pesona 01, Warta Pesona
- Sabtu, 2 Mei 2026 | 08:33 WIB
Dedi Mulyadi. (Instagram @dedimulyadi71)
Dedi Mulyadi. (Instagram @dedimulyadi71)

Baca Juga: Hasil Quick Count Pilgub Jabar 2024: Dedi Mulyadi-Erwan Setiawan Menuju Kemenangan

Dalam survei Indikator, beberapa program yang dikaitkan dengan kinerjanya mendapat perhatian publik: pembentukan Satgas Anti-Premanisme, program sosial “Jabar Nyaah Ka Indung”, pembangunan dan perbaikan jalan, penyediaan penerangan jalan, pembangunan sekolah baru, rehabilitasi lahan perkebunan dan hutan, asuransi ketenagakerjaan untuk masyarakat bawah, pemasangan listrik gratis, beasiswa warga miskin, normalisasi sungai, serta penutupan tambang ilegal.

Mitos kedua adalah anggapan bahwa orang Sunda kurang wawasan atau kurang punya perspektif besar. Dedi justru menunjukkan sebaliknya. Ia membangun gaya kepemimpinan yang bertumpu pada perpaduan antara administrasi modern, kearifan lokal, ekologi, disiplin sosial, dan keberpihakan kepada rakyat kecil.

Dedi tidak hanya bicara jalan rusak sebagai urusan infrastruktur. Ia mengaitkannya dengan martabat warga, konektivitas ekonomi, dan keadilan pelayanan publik. Ia tidak hanya bicara sungai sebagai saluran air.

Ia membacanya sebagai ruang ekologis yang harus diselamatkan dari kesemrawutan. Ia tidak hanya bicara ibu, manusia usia lanjut, atau warga miskin sebagai objek bantuan. Ia mengangkatnya sebagai panggilan moral: negara harus hadir dengan rasa.

Mitos ketiga adalah anggapan bahwa orang Sunda kurang kreatif. Dedi justru menjadi salah satu kepala daerah paling kreatif dalam mengelola komunikasi publik. Ia memahami bahwa zaman telah berubah. Politik tidak lagi hanya berlangsung di kantor partai, ruang rapat, atau baliho jalan raya. Politik hari ini juga berlangsung di layar telepon.

Dedi menggunakan media sosial bukan sekadar untuk pencitraan, tetapi sebagai panggung interaksi, kanal pengaduan, ruang edukasi, sekaligus etalase kerja. Rakyat melihat langsung bagaimana pemimpinnya hadir, menegur, membela, menyelesaikan masalah.

Mitos lain yang kerap dilekatkan kepada citra lelaki Sunda adalah stigma “doyan kawin”. Ini tentu stereotip yang kasar dan tidak adil. Namun, dalam konteks Dedi Mulyadi, narasi personalnya justru menunjukkan sisi sebaliknya.

Dedi dikenal sebagai figur yang kuat secara emosional, memiliki keteguhan personal, dan tidak menjadikan kehidupan pribadinya sebagai panggung sensasi murahan.

Dalam politik Indonesia yang sering dipenuhi gosip, intrik, dan pencitraan personal, karakter semacam ini memberi pembeda. Dedi menampilkan maskulinitas politik yang tidak bertumpu pada dominasi, tetapi pada ketegasan, tanggung jawab, dan keberanian memikul risiko.

Terakhir, mitos terbesar yang dipatahkan Dedi adalah anggapan bahwa orang Sunda sulit menjadi pemimpin besar. Dedi membuktikan bahwa kepemimpinan Sunda tidak harus inferior di hadapan gaya kepemimpinan Jawa, Sumatra, Sulawesi, atau daerah lain.

Dedi membawa gaya kepemimpinan yang tidak kering. Ada unsur budaya, spiritualitas, humor, ketegasan, empati, dan keberanian. Ia tidak malu menjadi Sunda. Ia justru menjadikan kesundaan sebagai sumber identitas politik: silih asah, silih asih, silih asuh; nyaah ka indung; hormat kepada alam; dan keberpihakan kepada wong cilik.

Dari situ, saya harus jujur mengatakan bahwa Dedi Mulyadi bukan hanya sedang memimpin Jawa Barat. Ia sedang merawat harga diri kultural masyarakat Sunda. Ia sedang menunjukkan bahwa dari tanah Pasundan bisa lahir pemimpin yang bekerja keras, berpikir luas, berani bertarung, kreatif berkomunikasi dengan baik, dan dicintai rakyatnya.***

*Toto Izul Fatah ialah Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA dan Ketua Umum IKA PP Ibadurrahman YLPI Tegalega Sukabumi Jawa Barat

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: IRA WP

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Simpul Nominee Rumah Sentul

Kamis, 16 Juli 2026 | 08:55 WIB

Jawaban Awal Seputar Jaksa

Sabtu, 11 Juli 2026 | 07:22 WIB

“Seandainya saya Jaksa Agung”

Kamis, 9 Juli 2026 | 14:12 WIB

Mengapa Manusia Suka Menonton Sepak Bola?

Selasa, 7 Juli 2026 | 06:43 WIB

Hantu Selembar Ijazah

Senin, 6 Juli 2026 | 07:06 WIB

Melampaui Hukum

Rabu, 1 Juli 2026 | 08:26 WIB
X