Kita membayar hak siar. Kita membeli televisi dan paket data. Kita membeli jersey. Kita mengonsumsi iklan. Kita membuat acara nobar. Kita memesan makanan. Kita menulis berita. Kita membuat konten. Kita menghabiskan waktu berjam-jam membicarakan Messi, Mbappé, Spanyol, Argentina, Inggris, dan Perancis.
Artinya, kita sudah menjadi bagian dari ekonomi piala dunia.
Pertanyaannya: bagian yang mana?
Apakah kita hanya berada di ujung rantai sebagai konsumen?
Apakah tugas kita hanya menonton produk yang diciptakan orang lain, membeli jersey yang mereknya dimiliki orang lain, membayar hak siar kepada pemilik hak di luar negeri, dan memberikan perhatian yang kemudian dimonetisasi perusahaan global?
Indonesia memiliki lebih dari 280 juta penduduk, basis penggemar sepak bola yang luar biasa besar, industri tekstil, ekonomi digital, sektor pariwisata, industri kreatif, dan puluhan juta usaha mikro dan kecil.
Mestinya olahraga tidak lagi dipandang sekadar urusan medali, klasemen, dan apakah tim nasional lolos atau tidak.
Olahraga adalah ekosistem ekonomi. Ada industri perlengkapan olahraga, akademi pemain, sports science, manajemen klub, penyiaran, produksi konten, teknologi pertandingan, analitik data, pariwisata olahraga, merchandising, pengelolaan stadion, industri makanan, transportasi, dan ekonomi komunitas.
Kita tidak harus menunggu Indonesia masuk final Piala Dunia untuk membangun semua itu. Yang diperlukan adalah liga domestik yang sehat dan dipercaya, klub yang dikelola profesional, stadion yang hidup bukan hanya ketika ada pertandingan besar.
Kita juga perlu industri merchandise resmi yang memberi nilai tambah kepada klub, akademi yang terhubung dengan pendidikan, sports science yang serius, data dan teknologi olahraga yang dikembangkan sendiri, serta UMKM yang secara sadar dimasukkan ke dalam rantai ekonomi pertandingan.
Sebab pelajaran Piala Dunia 2026 sangat sederhana: yang bermain memang 22 orang, tetapi yang dapat memperoleh rezeki bisa berjuta-juta orang.
Senin dini hari itu, setelah Spanyol mengalahkan Argentina dengan skor 1-0, dunia akhirnya mengetahui siapa juara Piala Dunia 2026.
FIFA menyerahkan trofi yang emasnya bernilai sekitar US$713 ribu. Sang juara memperoleh hadiah prestasi US$50 juta.
Masih di lapangan, para pemain berfoto. Konfeti turun. Jutaan telepon genggam mengabadikan momen itu. Beberapa jam kemudian stadion mulai kosong. Tetapi uang yang digerakkan oleh turnamen itu belum berhenti berjalan.
Ia berpindah dari FIFA ke federasi, dari televisi ke pemegang hak, dari sponsor ke media, dari wisatawan ke hotel, dari penumpang ke maskapai, dari penonton ke restoran, dari pelanggan ke operator internet, dari orang yang nobar ke warung kopi.