opini

Rezeki Yang Menular

Senin, 20 Juli 2026 | 09:24 WIB

Di Indonesia, aliran rezeki itu bahkan dapat dihitung hingga ke warung-warung kecil. Survei Lokadata mencatat 78,1 persen masyarakat Indonesia mengikuti nobar setidaknya sekali selama piala dunia, dengan pengeluaran rata-rata sekitar Rp51 ribu per orang untuk sekali nobar.

Kajian Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia memperkirakan aktivitas tersebut menggerakkan uang hingga Rp5,03 triliun, dengan sekitar Rp2,4 triliun di antaranya dinikmati sektor hotel, restoran, dan kafe.

Jejaknya terlihat sampai ke daerah. Di antaranya: 221 titik nobar resmi di Nusa Tenggara Timur, lebih dari 120 titik di Bengkulu, sementara nobar TVRI Sumatra Selatan yang semula melibatkan 18 UMKM bertambah menjadi 29 UMKM menjelang final.

Angka-angka itu memberi wajah konkret pada apa yang disebut ekonom sebagai multiplier effect, efek pengganda: Messi atau Yamal menggiring bola di New Jersey, tetapi beberapa detik kemudian kopi dituang, bakso dipesan, sate dibakar, dan gorengan habis di Indonesia.

Kita memang belum mencetak gol di piala dunia, tetapi setidaknya kali ini banyak UMKM ikut mencetak omzet. Satu dolar yang dibelanjakan seorang penonton tidak mati setelah berpindah tangan.

Uang tiket menjadi gaji petugas stadion. Gaji itu dibelanjakan di restoran. Restoran membeli ayam dari pemasok. Pemasok membayar peternak. Peternak membeli pakan. Produsen pakan menggaji pekerja. Pekerja membeli beras.

Uang terus berpindah seperti bola dari kaki ke kaki. Saya lebih suka menyebutnya dengan bahasa warung kopi: "rezeki yang menular".

Sebuah gol di New Jersey ternyata dapat membuat sebuah kafe di Jakarta mendadak riuh. Sebuah penalti membuat orang memesan kopi kedua karena pertandingan diperpanjang tiga puluh menit. Adu penalti mungkin berarti tambahan sepiring pisang goreng.

Dalam ilmu ekonomi, itu disebut peningkatan konsumsi rumah tangga. Bagi pemilik warung, penjelasannya lebih sederhana: dagangan habis karena kiper gagal menangkap bola.

Rantai nilainya membentang luar biasa panjang. Dari pabrik sepatu dan jersey di Asia, maskapai penerbangan lintas benua, jaringan hotel Amerika, perusahaan teknologi global, studio televisi, operator telekomunikasi, sampai pedagang kacang di pinggir jalan Indonesia.

Mereka tidak saling mengenal. Tidak pernah mengadakan rapat koordinasi. Tidak memiliki grup WhatsApp. Tetapi semuanya terhubung oleh satu benda bulat berdiameter sekitar 22 sentimeter.

Itulah sebabnya Piala Dunia sesungguhnya bukan hanya industri sepak bola. Ia adalah industri perhatian, industri perjalanan, industri hiburan, industri media, industri tekstil, industri makanan, industri teknologi, bahkan industri kenangan.

Orang membayar bukan sekadar untuk melihat pertandingan. Mereka membayar untuk mengalami sesuatu, merekamnya, menceritakannya, dan suatu hari berkata: "saya pernah berada di sana."

Lalu di manakah Indonesia dalam rantai panjang itu?

Kita memang belum bermain di Piala Dunia 2026. Tetapi jangan salah: uang Indonesia sudah ikut bertanding.

Halaman:

Tags

Terkini

Ke Baduy Saja, Tak Perlu ke Singapura

Selasa, 21 Juli 2026 | 18:57 WIB

Ketika Sepak Bola Menjadi Sejenis Agama Modern

Senin, 20 Juli 2026 | 12:48 WIB

Rezeki Yang Menular

Senin, 20 Juli 2026 | 09:24 WIB

Simpul Nominee Rumah Sentul

Kamis, 16 Juli 2026 | 08:55 WIB

Jawaban Awal Seputar Jaksa

Sabtu, 11 Juli 2026 | 07:22 WIB

“Seandainya saya Jaksa Agung”

Kamis, 9 Juli 2026 | 14:12 WIB

Mengapa Manusia Suka Menonton Sepak Bola?

Selasa, 7 Juli 2026 | 06:43 WIB

Hantu Selembar Ijazah

Senin, 6 Juli 2026 | 07:06 WIB