Bahkan ketika pemain berhenti bermain, mesin uang tidak ikut berhenti. Piala Dunia 2026 mengenal hydration break, jeda yang terutama diperlukan untuk melindungi pemain dari panas. Tetapi dalam industri televisi, ruang kosong tiga menit adalah lahan yang terlalu subur untuk dibiarkan tidak ditanami iklan.
Forbes mencatat spot iklan 30 detik selama pertandingan dapat bernilai sekitar US$200 ribu hingga US$750 ribu. Dari total waktu jeda sepanjang turnamen, potensi komersialnya diperkirakan mencapai ratusan juta dolar; estimasi konservatif yang disebut Forbes saja sedikitnya US$250 juta.
Pemain boleh berhenti untuk minum. Kapitalisme rupanya tidak pernah haus; ia justru menjual airnya.
Angka itu menjadi semakin menarik bila dibanding nilai hak siar. Forbes menyebut Fox dilaporkan membayar sekitar US$485 juta untuk hak turnamen. Artinya, secara teoretis, sebagian besar biaya hak siar itu dapat ditutup hanya dari sebuah ruang komersial yang bahkan tidak ada dalam inti permainan: jeda minum.
Dari sinilah kita memahami mengapa piala dunia telah berkembang menjadi salah satu mesin bisnis olahraga terbesar di planet ini.
FIFA menganggarkan sekitar US$3,8 miliar untuk penyelenggaraan turnamen ini. Di dalamnya terdapat biaya operasional sekitar US$1,1 miliar, termasuk transportasi kegiatan dan layanan perangkat pertandingan.
Pada sisi pemasukan, proyeksi FIFA untuk siklus empat tahunan yang berakhir dengan Piala Dunia 2026 mencapai sekitar US$13 miliar, dengan porsi sangat besar berasal dari hak penyiaran, tiket, dan hospitality.
Bandingkan dengan siklus Piala Dunia Qatar 2022 yang menghasilkan rekor pendapatan sekitar US$7,6 miliar. Bola yang dipakai tetap bulat. Gawangnya tetap dua. Pemainnya tetap sebelas melawan sebelas. Tetapi mesin bisnis yang mengelilinginya tumbuh seperti kota yang tidak pernah selesai membangun gedung.
Uang itu juga mengalir kembali ke tempat asal para pemain. FIFA menyediakan sekitar US$250 juta melalui Club Benefits Programme untuk klub-klub yang pemainnya tampil di Piala Dunia, dengan pembayaran yang diperkirakan setidaknya sekitar US$5 ribu per pemain per hari.
Bahkan klub yang melepas pemain ke tim nasional ikut memperoleh bagian dari pesta. Sebab, dalam ekonomi sepak bola modern, kaki pemain memang hanya sepasang, tetapi hak ekonomi atas jasanya dapat memiliki banyak pintu.
Namun, tidak semua uang yang berputar adalah keuntungan. Di sinilah kita perlu berhati-hati dengan istilah "dampak ekonomi".
Setiap kali sebuah kota hendak menjadi tuan rumah pesta olahraga besar, biasanya muncul presentasi yang sangat menggembirakan. Hotel akan penuh. Wisatawan datang. Restoran ramai. Lapangan kerja tercipta. Angka-angka berbaris rapi dalam power point seperti pasukan yang siap memenangkan perang.
Yang jarang muncul di halaman pertama adalah tagihannya. Forbes mencatat pemerintah federal Amerika Serikat menyalurkan sekitar US$221 juta kepada kota dan negara bagian penyelenggara untuk membantu menghadapi ancaman drone.
Dana sekitar US$625 juta lainnya dialokasikan untuk memperkuat persiapan keamanan dan keamanan siber. Pada dua pekan pertama turnamen saja, lebih dari 300 drone dilaporkan disita di sekitar lokasi piala dunia.
Pemerintah lokal pun harus membuka dompet. Menurut angka yang dikutip Forbes, kota-kota tuan rumah di Amerika Serikat dapat menanggung biaya hingga US$100 juta lebih untuk mengakomodasi turnamen.