Di berbagai konferensi internasional, saya sering melihat negara-negara lain mempresentasikan penemuan besar mereka. Setiap kali tepuk tangan memenuhi ruangan, saya selalu bertanya dalam hati: kapan giliran Indonesia?
Pertanyaan itu terus mengikuti saya pulang. Pertanyaan itulah yang harus menjadi renungan bersama.
Saya belajar bahwa keberanian di industri energi bukanlah keberanian yang gaduh. Ia justru hadir dalam ketekunan yang nyaris tidak terlihat.
Oleh karena itu, saya percaya, tugas seorang pemimpin bukan sekadar memberi perintah. Tugasnya adalah membangun ruang agar keberanian kolektif itu dapat tumbuh.
Kepada para eksekutor lapangan, teruslah berpikir melampaui kebiasaan. Teruslah berani keluar dari cara lama. Karena sejarah tidak pernah diubah oleh mereka yang hanya mengulang masa lalu.
Di atas semua itu, ada satu revolusi yang tidak boleh kita lewatkan: artificial intelligence (AI). AI bukan lagi sekadar alat bantu, melainkan mitra strategis dalam eksplorasi energi.
AI mampu mempercepat interpretasi data seismik, meningkatkan akurasi pemodelan reservoir, mengoptimalkan pengeboran, memprediksi kerusakan peralatan sebelum terjadi, hingga membantu menemukan pola geologi yang sebelumnya luput dari pengamatan manusia.
Tetapi AI hanya sekuat kualitas data dan keberanian kita untuk belajar dari insight yang kadang mengganggu kebiasaan lama. Di era ketika kecepatan belajar menentukan kemenangan, AI bukan pengganti para geolog dan insinyur, melainkan pengganda kecerdasan mereka.
Perusahaan energi yang paling cepat menguasai AI akan memiliki peluang terbesar menemukan great discovery berikutnya, bukan hanya di darat dan laut, tetapi juga di cara kita mengambil keputusan setiap hari.
Jabatan selalu memiliki batas waktu. Tetapi legacy tidak mengenal masa pensiun. Pada akhirnya, orang tidak akan mengingat berapa lama kita menduduki sebuah kursi. Yang akan dikenang adalah apakah selama kita ada di sana, kita berhasil membuka jalan bagi generasi berikutnya.
Pertamina Hulu Energi memasuki usia sembilan belas tahun dengan satu komando besar yang tidak pernah berubah: mewujudkan kemandirian energi Indonesia.
Kita juga memiliki satu musuh bersama yang harus dikalahkan: ketergantungan pada impor minyak.
Selama produksi nasional masih berada di bawah kebutuhan energi bangsa, setiap penemuan baru bukan sekadar keberhasilan bisnis, melainkan langkah nyata menuju kedaulatan, ketahanan, dan martabat Indonesia.
Semoga suatu hari nanti, ketika sejarah energi Indonesia ditulis kembali, generasi mendatang dapat berkata bahwa pada masa inilah lahir sebuah great discovery yang mengubah bukan hanya Pertamina Hulu Energi, tetapi juga masa depan Indonesia.
Karena warisan terbesar seorang pemimpin bukanlah jabatan yang pernah dipegangnya, melainkan harapan yang berhasil ia ubah menjadi kenyataan.