opini

19 Tahun Pertamina Hulu Energi, Upaya Menemukan Ladang Minyak Raksasa

Rabu, 1 Juli 2026 | 06:05 WIB

Great discovery hanya menjadi berkah ketika ditopang oleh kebijakan fiskal yang cerdas, kapasitas birokrasi yang profesional, serta budaya publik yang berani mengawasi kekuasaan.

Tanpa tiga pilar itu, ladang minyak raksasa hanya memperbesar ketimpangan dan konflik.

Dalam buku The Prize: The Epic Quest for Oil, Money, and Power (1991), Daniel Yergin memperlihatkan bahwa sejarah minyak sesungguhnya adalah sejarah keberanian mengambil risiko.

Hampir semua penemuan ladang minyak terbesar di dunia lahir setelah rentetan panjang kegagalan eksplorasi. Para geolog terus mengebor walaupun peluang berhasil sering kali jauh lebih kecil daripada peluang gagal.

Buku ini menunjukkan bahwa perusahaan energi yang menjadi pemimpin dunia bukanlah perusahaan yang tidak pernah gagal, melainkan perusahaan yang mampu belajar lebih cepat dari setiap kegagalan.

Yergin juga menjelaskan bahwa energi selalu menentukan arah geopolitik, pertumbuhan ekonomi, dan kekuatan nasional. Negara yang mampu menemukan sumber energi baru memperoleh ruang yang lebih besar untuk menentukan masa depannya sendiri.

Oleh karena itu, eksplorasi bukan sekadar aktivitas bisnis. Ia adalah investasi strategis bagi kedaulatan suatu bangsa. Dalam setiap penemuan besar selalu terdapat kombinasi ilmu pengetahuan, teknologi, keberanian, disiplin, dan kesabaran yang berlangsung selama bertahun-tahun.

Namun, keberanian di era modern tidak boleh menjadi kecerobohan. Bagi BUMN seperti Pertamina, setiap dolar yang tertanam di bawah tanah adalah amanah rakyat.

Oleh karena itu, romantisasi risiko eksplorasi harus dimitigasi melalui penguatan corporate governance yang rigid dan transparansi hukum.

Kedaulatan energi hanya akan tegak jika keberanian para geolog di lapangan bersanding harmonis dengan akuntabilitas tata kelola keuangan yang bersih.

Inilah tantangan Pertamina Hulu Energi: bagaimana kita melahirkan great discovery Indonesia.

Saya optimistis. Bukan karena optimisme kosong. Tetapi karena data yang kita miliki memberi alasan untuk berharap.

Pertama, Indonesia memiliki sekitar 128 cekungan sedimen yang membentang dari Aceh sampai Papua. Sebagian besar bahkan belum dieksplorasi secara optimal.

Guyana mengalami transformasi hanya dari satu cekungan utama. Indonesia memiliki potensi geologi yang jauh lebih luas.

Kedua, dalam beberapa tahun terakhir sudah muncul sinyal yang menggembirakan. Penemuan penting di Kutai Basin oleh Eni menunjukkan masih besarnya potensi Kalimantan Timur.

Halaman:

Tags

Terkini

Melampaui Hukum

Rabu, 1 Juli 2026 | 08:26 WIB

Negara Bukan Pemilik Tanah Adat

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:05 WIB

Main Seperti Planga-plongo, Messi Borong Dua Gol

Selasa, 23 Juni 2026 | 08:15 WIB

Kapolri dan Makam BJ Habibie Yang Terlewat

Minggu, 21 Juni 2026 | 19:11 WIB

Tak Kunjung Selesai

Sabtu, 20 Juni 2026 | 08:09 WIB

Doaku Untuk Presidenku, Solusi Lewat Jalan Sunyi

Jumat, 19 Juni 2026 | 09:06 WIB

Sunda Dalam Angka, Etika, dan Budaya

Kamis, 18 Juni 2026 | 11:13 WIB