Oleh Denny JA
WartaPesona.com - Seorang geolog berdiri sendirian di atas geladak kapal eksplorasi. Laut tenang. Langit membisu.
Di bawah permukaan air yang tampak biasa saja, tersimpan kemungkinan yang dapat mengubah nasib jutaan manusia.
Namun kemungkinan itu tidak pernah memberi kepastian. Satu pengeboran dapat menghabiskan ratusan juta dolar. Bertahun-tahun kerja keras dapat berakhir tanpa setetes minyak.
Baca Juga: Piala Dunia 2026: Norwegia Menantang Brasil di Babak 16 Besar
Di wajah para geolog, para insinyur, dan para pekerja lapangan, selalu hidup dua emosi sekaligus: harapan yang besar dan keberanian menghadapi kegagalan.
Dari ruang sunyi seperti itulah, sejarah energi dunia sering kali dimulai.
Setiap ulang tahun Pertamina Hulu Energi (PHE), kita perlu menguji diri dengan satu pertanyaan yang sederhana tetapi menentukan: PHE ini akan kita bawa ke mana?
Bukan sekadar tahun depan. Bukan pula hanya sampai akhir Rencana Jangka Panjang Perusahaan. Melainkan sepuluh tahun ke depan. Lima belas tahun ke depan. Dua puluh tahun ke depan.
Perusahaan besar tidak dibedakan oleh laba satu kuartal. Ia dikenang karena arah sejarah yang dipilihnya.
Untuk menjawab pertanyaan itu, kita dapat mengambil inspirasi sebuah studi kasus. Sebuah kisah nyata yang membuktikan bahwa satu penemuan ladang minyak raksasa tidak hanya mengubah sebuah perusahaan energi. Ia mampu mengubah nasib sebuah bangsa.
Sebagian dari kisah ini didapat dari buku The New Guyana: Leadership, Oil, and the Future of a New Petrostate karya Raymond Ramcharitar, 2024.
Buku ini menjelaskan bagaimana Guyana mengalami transformasi yang hampir tidak pernah terjadi dalam sejarah modern. Selama puluhan tahun, Guyana dikenal sebagai salah satu negara termiskin di Amerika Selatan dengan pertumbuhan ekonomi yang relatif rendah, berkisar dua hingga lima persen per tahun.