Secara historis, Majapahit mengalami kemunduran panjang setelah masa puncaknya.
Disebutkan, Majapahit mulai melemah sepeninggal Gajah Mada pada 1364 dan Hayam Wuruk pada 1389.
Dalam bahasa politik hari ini, kisah Brawijaya V dapat dibaca sebagai simbol penguasa yang terlambat menyadari perubahan sosial. Pusat kekuasaan masih merasa dirinya besar, sementara kekuatan baru tumbuh di pesisir.
Pelajaran penting dari keempat penguasa di dunia dan nusantara yang jatuh ini adalah bahwa mereka jatuh bukan karena tidak punya kekuasaan, tetapi karena tidak punya informasi yang benar dari anak buahnya.
Dari Baghdad, Rusia, Prancis, sampai kisah Majapahit, ada satu benang merah: penguasa jatuh ketika sistem informasinya rusak.
Ia hanya mendengar laporan yang enak-enak saja.
Ia hanya dikelilingi orang yang pandai menyenangkan telinga.
Ia tidak diberi kabar buruk karena bawahan takut dimarahi, takut dicopot, takut dianggap tidak loyal, atau justru sedang menikmati keuntungan dari kebohongan itu.
Di atas kertas, semua aman. Di laporan resmi, semua terkendali. Di istana, tepuk tangan terus terdengar. Tetapi di lapangan, rakyat menggerutu, ekonomi tertekan, mahasiswa bergerak, dan elite diam-diam berkhianat.
Inilah yang disebut sindrom istana menara gading --penguasa merasa ada di tempat tinggi, tetapi tidak lagi membumi.
Ia bisa melihat jauh secara simbolik, tetapi tidak mampu melihat luka di bawah kakinya sendiri.
Pelajaran terpenting lainnya, bagi siapa pun yang berkuasa hari ini, jangan takut kepada kritik. Tetapi takutlah kepada pujian palsu. Kritik mungkin menyakitkan, tetapi sering kali menyelamatkan.
Kekuasaan tidak selalu jatuh karena kurang kuat. Kekuasaan sering jatuh karena terlalu percaya dirinya masih sangat kuat.
Dan, di situlah awal kehancuran dimulai.***
*Toto Izul Fatah ialah Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA Ketua Umum IKA PP Ibadurrahman YLPI Tegalega Sukabumi, Jawa Barat