opini

Sindrom Istana Menara Gading, Penguasa yang Jatuh Karena ABS

Rabu, 1 Juli 2026 | 06:45 WIB
Toto Izul Fatah

Baca Juga: Piala Dunia 2026: Jepang dan Swedia Menyusul Belanda ke Babak 32 Besar

Ia juga menjadi contoh klasik pemimpin yang terputus dari denyut rakyatnya.

Ia mempertahankan model kekuasaan autokratis, enggan memberi peran besar kepada Duma atau parlemen.

Rusia menghadapi tekanan berat, mulai dari  kekalahan dalam perang, krisis ekonomi, kemiskinan, represi politik, serta luka sosial akibat peristiwa seperti Bloody Sunday dan Revolusi 1905.

Ia terlalu lama percaya bahwa rakyat masih bisa dikendalikan dengan simbol kekaisaran, polisi rahasia, militer, dan mitos kesucian tahta.

Padahal, di bawah permukaan, legitimasi sudah retak. Pengaruh lingkaran istana, termasuk figur seperti Rasputin yang memperoleh pengaruh besar di sekitar keluarga kerajaan, makin memperburuk citra monarki di mata publik.

Ketiga, Louis XVI, raja yang jatuh karena terlambat mengerti "derita roti".

Dari Prancis, ia  juga memberi pelajaran besar. Menjelang revolusi Prancis, kerajaan menghadapi krisis keuangan yang serius: utang menumpuk, sistem pajak timpang, kelas-kelas istimewa sulit disentuh pajak, dan rakyat biasa menanggung beban paling berat.

Dalam kasus Louis XVI, masalahnya bukan hanya “dibohongi” secara sederhana oleh bawahan. Lebih dari itu, ia hidup dalam sistem istana yang membuat realitas rakyat tersaring oleh kepentingan bangsawan, pejabat, dan kelas istimewa.

Ketika rakyat bergulat dengan harga roti, pajak, dan kelaparan, istana masih lambat menangkap bahwa krisis ekonomi sudah berubah menjadi krisis legitimasi.

Revolusi Prancis lahir dari pertemuan antara krisis fiskal, ketimpangan sosial, kebuntuan reformasi, dan kemarahan rakyat yang lama diabaikan.

Dari Louis XVI kita belajar, bahwa perut rakyat adalah sensor politik paling jujur.

Jika harga pangan naik, hidup makin sulit, sedangkan elite tetap hidup mewah dan merasa keadaan terkendali, jarak antara istana dan rakyat akan berubah menjadi jurang.

Keempat, dari Nusantara, Prabu Brawijaya V, yang mengajarkan kita tentang kejatuhan akibat Istana yang tertutup.

Dalam Serat Darmogandul dan Babad Tanah Jawi juga sering dibaca sebagai pelajaran moral-politik tentang raja yang terlambat mengetahui keadaan di sekelilingnya.

Halaman:

Tags

Terkini

Melampaui Hukum

Rabu, 1 Juli 2026 | 08:26 WIB

Negara Bukan Pemilik Tanah Adat

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:05 WIB

Main Seperti Planga-plongo, Messi Borong Dua Gol

Selasa, 23 Juni 2026 | 08:15 WIB

Kapolri dan Makam BJ Habibie Yang Terlewat

Minggu, 21 Juni 2026 | 19:11 WIB

Tak Kunjung Selesai

Sabtu, 20 Juni 2026 | 08:09 WIB

Doaku Untuk Presidenku, Solusi Lewat Jalan Sunyi

Jumat, 19 Juni 2026 | 09:06 WIB

Sunda Dalam Angka, Etika, dan Budaya

Kamis, 18 Juni 2026 | 11:13 WIB