Oleh Denny JA
WartaPesona.com - Di Teheran, seorang ibu memeluk anaknya di ruang bawah tanah ketika sirene serangan udara kembali meraung. Di atas mereka, langit malam bergetar oleh ancaman peluru kendali (Rudal).
Ribuan kilometer dari sana, di New York, seorang trader minyak menatap layar komputer yang menunjukkan harga energi melonjak dari menit ke menit.
Mereka tak pernah bertemu. Mereka berbeda bahasa, agama, dan nasib. Namun malam itu hidup mereka terhubung oleh satu jalur laut sempit bernama Hormuz.
Baca Juga: Ketika Dunia Mencari Tempat Berlindung, Indonesia Harus Menjadi Jangkar
Si ibu takut kehilangan anaknya. Si trader takut kehilangan miliaran dolar. Ketakutan mereka berbeda, tetapi sumbernya sama: perang.
Lalu sesuatu yang tak pernah dibayangkan terjadi. Perang yang dimulai dengan Rudal, ancaman, dan darah perlahan bergerak menuju meja perundingan.
Yang semula diperebutkan dengan senjata mulai dihitung dengan angka. Yang semula ingin dimenangkan dengan kekuatan mulai dinegosiasikan dengan konsesi.
Di situlah dunia menyaksikan sebuah pelajaran tua yang terus berulang dalam sejarah: banyak perang dimulai oleh emosi, tetapi sebagian besar berakhir oleh transaksi.
Baca Juga: Rusia Siap Tingkatkan Kemitraan dengan ASEAN
Sejarah biasanya mengajarkan bahwa perang berakhir ketika satu pihak menyerah, ketika ibu kota jatuh, atau ketika pasukan kehabisan tenaga.
Namun perang Iran melawans Amerika Serikat dan Israel memperlihatkan pola yang berbeda.
Yang menentukan bukan lagi siapa memiliki Rudal paling banyak. Yang menentukan adalah siapa mampu memengaruhi arus energi dunia, stabilitas pasar global, dan biaya politik yang harus ditanggung para pemimpin negara.
Di era globalisasi, ekonomi telah menjadi medan perang yang sama pentingnya dengan medan tempur.