opini

Elon Musk, Thomas Alva Edison, dan Mengapa Kita Perlu Inovator?

Minggu, 7 Juni 2026 | 10:03 WIB

Peradaban manusia tidak bergerak maju karena jumlah penduduk bertambah. Ia tidak bergerak maju hanya karena modal semakin besar atau teknologi semakin canggih.

Ketika saya melihat perjalanan Edison dan Musk, saya tidak hanya melihat dua individu yang luar biasa. Saya melihat peringatan bagi setiap bangsa.

Jika kita gagal melahirkan inovator, kita akan menjadi konsumen masa depan yang diciptakan orang lain. Tetapi jika kita berhasil melahirkan mereka, kita ikut menulis arah sejarah.

Indonesia baru menyalurkan 0,30% dari PDB untuk riset, jauh di bawah Malaysia 1,1 persen dan Korea Selatan 4,8 persen. Kurangnya dana riset dan insentif pajak menghambat lahirnya inovator besar.

Pemerintah perlu menaikkan target riset ke 1 persen PDB, memberi insentif pajak 200 persen untuk pengeluaran R&D perusahaan, dan membangun sepuluh inkubator nasional di perguruan tinggi untuk mempercepat disrupsi teknologi.

Peradaban bergerak maju karena dari waktu ke waktu muncul manusia yang berani membayangkan dunia yang berbeda.

Thomas Alva Edison mengubah malam menjadi ruang produktivitas.

Elon Musk berusaha mengubah ruang angkasa menjadi bagian dari ekonomi manusia.

Mereka menunjukkan inovasi terbesar bukan sekadar menciptakan produk baru, melainkan mengubah cara manusia hidup.

Di tengah berbagai tantangan abad ke-21, dunia tidak hanya membutuhkan lebih banyak pengusaha. Dunia membutuhkan lebih banyak inovator penggerak zaman. Mereka yang mampu melihat kemungkinan ketika orang lain hanya melihat keterbatasan.

Karena pada akhirnya, sejarah tidak diubah oleh mereka yang sekadar menyesuaikan diri dengan zaman. Sejarah diubah oleh mereka yang cukup berani menciptakan zaman baru.

Setiap peradaban besar lahir dua kali: pertama di dalam imajinasi seorang inovator, lalu di dalam kehidupan jutaan manusia yang mengikuti jejaknya.***

Referensi

  1. The Innovator’s Dilemma, Clayton M. Christensen, Harvard Business Review Press, 1997.
  2. Elon Musk, Walter Isaacson, Simon & Schuster, 2023.

Halaman:

Tags

Terkini

Mengapa Dolar AS Menembus Rp18.000?

Sabtu, 6 Juni 2026 | 11:07 WIB

Memelihara Harapan di Tengah Kesulitan

Sabtu, 6 Juni 2026 | 09:54 WIB

Belajar Merawat Alam dari Leluhur Nusantara

Jumat, 5 Juni 2026 | 13:12 WIB

Hantu Kurs Dolar

Jumat, 5 Juni 2026 | 06:39 WIB

Menguji Ramalan Leluhur di Tengah Zaman Kacau

Selasa, 2 Juni 2026 | 10:47 WIB

Tan Malaka dan Keberanian Berpikir

Selasa, 2 Juni 2026 | 09:10 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 12:54 WIB

Abu Janda Versus Permadi Arya

Senin, 1 Juni 2026 | 09:54 WIB

Kematian dan Kupu-kupu Itu, Adikku

Senin, 1 Juni 2026 | 09:20 WIB

Dua Kali Adil

Senin, 1 Juni 2026 | 07:00 WIB