Di sinilah kemiripannya dengan Edison.
Mereks memahami bahwa kemajuan peradaban bukanlah proses yang berjalan otomatis. Kemajuan membutuhkan manusia yang cukup nekat untuk mempertanyakan apa yang dianggap mustahil.
Edison memperpanjang siang hari.
Musk berusaha memperluas cakrawala masa depan.
Keduanya berbicara dalam bahasa yang sama: bahasa kemungkinan.
Dua buku ini memperkaya wawasan kita soal isu di atas. Pertama, buku berjudul The Innovator’s Dilemma karya Clayton M. Christensen, 1997.
Buku ini menjelaskan sebuah paradoks yang mengejutkan. Banyak perusahaan besar gagal bukan karena mereka tidak kompeten. Mereka gagal justru karena terlalu sukses mempertahankan model bisnis lama.
Christensen menunjukkan bagaimana inovasi besar hampir selalu datang dari pinggiran. Teknologi baru pada awalnya tampak kecil, tidak menguntungkan, dan sering diremehkan. Namun perlahan teknologi itu tumbuh hingga menggantikan pemain lama.
Pelajaran terpenting dari buku ini adalah bahwa peradaban bergerak melalui gelombang disrupsi. Mereka yang hanya mempertahankan masa lalu pada akhirnya akan dikalahkan oleh mereka yang menciptakan masa depan.
Ketika membaca buku ini, kita memahami mengapa tokoh seperti Edison dan Musk begitu penting. Mereka bukan sekadar pemain dalam permainan yang ada. Mereka mengubah aturan permainannya.
Buku kedua adalah Elon Musk karya Walter Isaacson, diterbitkan oleh Simon & Schuster pada tahun 2023.
Isaacson menggambarkan Musk bukan sebagai tokoh sempurna, melainkan sebagai manusia yang terus-menerus berperang dengan batas kemampuannya sendiri.
Buku ini menunjukkan bahwa inovasi besar sering lahir dari kombinasi yang tidak nyaman: rasa ingin tahu yang ekstrem, keberanian mengambil risiko, ketahanan menghadapi kegagalan, dan obsesi terhadap tujuan jangka panjang.
Salah satu pelajaran paling penting dari buku tersebut inovator besar hampir selalu terlihat tidak masuk akal sebelum mereka berhasil.
Banyak gagasan Musk pernah dianggap fantasi. Mobil listrik massal dianggap mustahil. Roket yang dapat dipakai ulang dianggap tak mungkin. Internet satelit global dianggap terlalu mahal.
Artikel Terkait
Pemerintah Membuka Ribuan Lowongan Kerja Untuk Warga ber-KTP Jakarta, Bergaji UMR
Kementerian Pertahanan Akan Bentuk Dua Batalion Komponen Cadangan di Setiap Kabupaten/Kota
Kendaraan Bermotor Mewah Harley Davidson, Ducati, dan Porsche di Rumah Silmy Karim Diangkut KPK
Memelihara Harapan di Tengah Kesulitan
Mengapa Dolar AS Menembus Rp18.000?