Elon Musk, Thomas Alva Edison, dan Mengapa Kita Perlu Inovator?

photo author
Tim Warta Pesona 01, Warta Pesona
- Minggu, 7 Juni 2026 | 10:03 WIB

Di sinilah kemiripannya dengan Edison.

Mereks memahami bahwa kemajuan peradaban bukanlah proses yang berjalan otomatis. Kemajuan membutuhkan manusia yang cukup nekat untuk mempertanyakan apa yang dianggap mustahil.

Edison memperpanjang siang hari.

Musk berusaha memperluas cakrawala masa depan.

Keduanya berbicara dalam bahasa yang sama: bahasa kemungkinan.

Dua buku ini memperkaya wawasan kita soal isu di atas. Pertama, buku berjudul The Innovator’s Dilemma karya Clayton M. Christensen, 1997.

Buku ini menjelaskan sebuah paradoks yang mengejutkan. Banyak perusahaan besar gagal bukan karena mereka tidak kompeten. Mereka gagal justru karena terlalu sukses mempertahankan model bisnis lama.

Christensen menunjukkan bagaimana inovasi besar hampir selalu datang dari pinggiran. Teknologi baru pada awalnya tampak kecil, tidak menguntungkan, dan sering diremehkan. Namun perlahan teknologi itu tumbuh hingga menggantikan pemain lama.

Pelajaran terpenting dari buku ini adalah bahwa peradaban bergerak melalui gelombang disrupsi. Mereka yang hanya mempertahankan masa lalu pada akhirnya akan dikalahkan oleh mereka yang menciptakan masa depan.

Ketika membaca buku ini, kita memahami mengapa tokoh seperti Edison dan Musk begitu penting. Mereka bukan sekadar pemain dalam permainan yang ada. Mereka mengubah aturan permainannya.

Buku kedua adalah Elon Musk karya Walter Isaacson, diterbitkan oleh Simon & Schuster pada tahun 2023.

Isaacson menggambarkan Musk bukan sebagai tokoh sempurna, melainkan sebagai manusia yang terus-menerus berperang dengan batas kemampuannya sendiri.

Buku ini menunjukkan bahwa inovasi besar sering lahir dari kombinasi yang tidak nyaman: rasa ingin tahu yang ekstrem, keberanian mengambil risiko, ketahanan menghadapi kegagalan, dan obsesi terhadap tujuan jangka panjang.

Salah satu pelajaran paling penting dari buku tersebut inovator besar hampir selalu terlihat tidak masuk akal sebelum mereka berhasil.

Banyak gagasan Musk pernah dianggap fantasi. Mobil listrik massal dianggap mustahil. Roket yang dapat dipakai ulang dianggap tak mungkin. Internet satelit global dianggap terlalu mahal.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: IRA WP

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Mengapa Dolar AS Menembus Rp18.000?

Sabtu, 6 Juni 2026 | 11:07 WIB

Memelihara Harapan di Tengah Kesulitan

Sabtu, 6 Juni 2026 | 09:54 WIB

Belajar Merawat Alam dari Leluhur Nusantara

Jumat, 5 Juni 2026 | 13:12 WIB

Hantu Kurs Dolar

Jumat, 5 Juni 2026 | 06:39 WIB

Menguji Ramalan Leluhur di Tengah Zaman Kacau

Selasa, 2 Juni 2026 | 10:47 WIB

Tan Malaka dan Keberanian Berpikir

Selasa, 2 Juni 2026 | 09:10 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 12:54 WIB

Abu Janda Versus Permadi Arya

Senin, 1 Juni 2026 | 09:54 WIB

Kematian dan Kupu-kupu Itu, Adikku

Senin, 1 Juni 2026 | 09:20 WIB

Dua Kali Adil

Senin, 1 Juni 2026 | 07:00 WIB
X