Akibatnya, jutaan anak memperoleh makanan bergizi, sementara ribuan keluarga petani mendapatkan pasar yang pasti. Program gizi berubah menjadi mesin pembangunan desa dan pengurangan kemiskinan sekaligus.
Saat itulah setiap piring makan bukan lagi sekadar makanan.
Ia menjadi jembatan antara gizi dan produktivitas, antara sekolah dan sawah, antara masa kini dan masa depan Indonesia.
Bangsa tidak dibangun hanya oleh bantuan yang habis dimakan hari ini, melainkan juga oleh pasar yang membuat rakyat mampu berdiri esok hari.
Bangsa yang besar bukanlah bangsa yang sekadar memberi makan anak-anaknya, melainkan bangsa yang membuat setiap piring makanan menjadi jalan naiknya martabat dan kapasitas rakyatnya.
Saya membayangkan seorang petani telur di Blitar. Setiap pagi ia tidak lagi bertanya apakah dagangannya laku. Ia tahu ribuan anak sekolah sedang menunggunya.***
Referensi
Poor Economics: A Radical Rethinking of the Way to Fight Global Poverty, Abhijit V. Banerjee & Esther Duflo, PublicAffairs, 2011.
The End of Poverty: Economic Possibilities for Our Time, Jeffrey D. Sachs, Penguin Press, 2005.
Artikel opini tersebut tidak mewakili pandangan redaksi