Namun, ada satu catatan penting. Kedekatan rakyat kepada pemimpin jangan sampai berubah menjadi kultus personal.
Bapak Aing harus tetap ditempatkan sebagai simbol komunikasi sosial, bukan sebagai pembenaran bahwa pemimpin selalu benar.
Rakyat boleh mencintai pemimpinnya, tetapi tetap harus boleh mengkritiknya. Justru karena disebut bapak, Dedi Mulyadi harus makin siap dikoreksi. Sebab bapak yang baik bukan yang anti-kritik, melainkan yang mau mendengar suara anak-anaknya.***
*Toto Izul Fatah ialah Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA dan Ketua Umum PP Ibadurrahman YLPI Tegalega Sukabumi, Jawa Barat