Yang dibutuhkan bukan sekadar administrasi pemerintahan, melainkan gerakan sosial. Dan gerakan sosial hanya mungkin lahir bila rakyat merasa dilibatkan.
Dalam komunikasi politik, ini adalah bentuk partisipasi berbasis kedekatan. Rakyat lebih mudah diajak gotong royong bila merasa pemimpinnya bukan orang asing dan bukan pemimpin yang hadir setiap lima tahun sekali.
Dalam falsafah Sunda, Bapak itu sebagai Pamomong. Dalam ajaran leluhur Sunda, pemimpin ideal bukan sekadar penguasa, tetapi pamomong. Ia mengasuh, mengayomi, menuntun, dan menjaga harmoni.
Pemimpin bukan hanya yang memberi perintah, tetapi yang memberi contoh. Bukan hanya yang memegang aturan, tetapi yang menjaga rasa.
Di sini, Bapak Aing dapat dibaca dalam kerangka silih asah, silih asih, silih asuh.
Baca Juga: Kenapa Malam Jumat Dihubungkan Dengan Acara Bercocok Tanam di Kelambu?
Silih asah berarti pemimpin dan rakyat saling mencerdaskan. Pemimpin tidak boleh merasa paling tahu. Rakyat pun tidak boleh hanya menjadi penonton.
Silih asih berarti hubungan kekuasaan harus dilandasi kasih, bukan sekadar instruksi.
Silih asuh berarti ada tanggung jawab saling menjaga. Pemimpin menjaga rakyat, tetapi rakyat juga menjaga pemimpinnya agar tetap lurus dan tidak mabuk kekuasaan.
Begitu juga dalam Islam, pemimpin adalah "khadim" yang berarti pelayan. Dengan demikian, makna Bapak Aing bisa dibaca juga sebagai pengingat bahwa pemimpin bukanlah majikan bagi rakyat. Pemimpin adalah khadim, pelayan umat.
Dalam Islam, seorang pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya atas yang dipimpinnya.
Oleh karena itu, kedekatan dengan rakyat bukan sekadar gaya komunikasi, tetapi bagian dari etika kepemimpinan.
Pemimpin harus tahu lapar rakyatnya, takut anak-anaknya tidak sekolah, cemas petaninya rugi, gelisah ibunya menangis, dan paham mengapa rakyat kecil sering tidak punya bahasa untuk mengadu.
Di sinilah letak ujian sebenarnya. Panggilan Bapak Aing adalah kehormatan, tetapi sekaligus beban amanah. Ia bukan mahkota untuk dipamerkan, melainkan janji yang harus dibayar dengan kerja nyata.