Hasilnya?
Meski ditentang WTO dan dikritik Barat, Indonesia kini dilirik sebagai pusat ekosistem baterai kendaraan listrik (EV).
Nilai tambah meningkat. Lapangan kerja tumbuh. Kita tidak lagi hanya menjual bahan mentah, tetapi mulai memanjat rantai nilai global.
Di sisi politik luar negeri, Prabowo menjalankan diplomasi multi-kutub. Menjalin aliansi dengan Prancis, Korea Selatan, Tiongkok, dan Amerika Serikat—tanpa menjadi antek siapapun.
Baca Juga: Dari Padang Pasir ke Pantai Tropis: Langkah Strategis Prabowo Bawa Indonesia ke Panggung Global
Ini bukan nasionalisme sempit, tetapi patriotisme strategis yang mengedepankan kepentingan nasional.
Kedaulatan Pangan, Energi, dan Kesehatan: Strategi Bertahan
Prabowo juga mendorong kemandirian dalam sektor vital—pangan, energi, dan kesehatan. Ini bukan slogan populis, melainkan respons realistis terhadap ancaman global di mana rantai pasok bisa putus sewaktu-waktu.
Keputusan Indonesia untuk lebih aktif dalam BRICS dan memimpin blok negara-negara Selatan menunjukkan kepercayaan diri baru di panggung global.
Sejarah Pihak yang Berani
Layaknya Mahathir pada 1997, Prabowo kini menjalani tantangan serupa: memilih jalur sulit namun berdaulat.
Ia mungkin dikritik, namun keberanian seperti inilah yang kelak akan dikenang.
Baca Juga: Setelah 10 Tahun Perundingan, Prabowo Umumkan Terobosan Bersejarah: RI dan Uni Eropa Sepakat CEPA
Karena satu hal pasti:
Dalam zaman yang luar biasa, ortodoksi bisa berbahaya. Hanya keberanian—yang berpijak pada visi dan kedaulatan—yang bisa menyelamatkan bangsa.
Indonesia tidak akan ditulis oleh mereka yang menunggu izin. Masa depan Indonesia akan ditentukan oleh mereka yang berani memimpin. ***(SA)