Baca Juga: Cina Berlakukan Undang-undang Persatuan Etnis, Tak Mau Lagi Perang Saudara Pecah
Presiden perlu mengangkat isu ini sebagai isu strategis negara. Bukan sekadar program kementerian. Bukan sekadar seremoni tanam pohon. Bukan sekadar pidato Hari Lingkungan Hidup. Tetapi, sebagai agenda besar lintas sektor.
Sebab krisis iklim pada akhirnya juga menjadi ancaman pertahanan. Negara bisa terguncang bukan hanya oleh invasi militer, tetapi juga oleh krisis pangan, krisis air, bencana berulang, kebakaran hutan, dan kota-kota pesisir yang makin terdesak oleh laut.
Jangan tunggu alam benar-benar “mengamuk” baru kita sadar. Politik boleh ramai. Ekonomi boleh dikejar. Infrastruktur boleh dibangun. Tetapi keselamatan lingkungan harus menjadi prioritas.
Inilah saatnya Presiden tampil memimpin agenda besar penyelamatan bumi dari Indonesia. Bukan hanya untuk citra politik, tetapi untuk warisan sejarah. Sebab pemimpin besar tidak hanya dikenang karena membangun jalan, bendungan, atau kawasan industri.
Pemimpin besar juga dikenang karena mampu menyelamatkan masa depan generasi yang belum lahir.
Percuma politik stabil, percuma ekonomi tumbuh, kalau alam sudah tidak sanggup lagi menopang kehidupan.***
*Toto Izul Fatah ialah Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA dan Ketua Umum IKA PP Ibadurrahman YLPI Tegalega Sukabumi, Jawa Barat
Artikel opini tersebut tidak mewakili pandangan redaksi
Artikel Terkait
Garudayaksa FC Diperkuat Pemain Asal Ghana Najeeb Yakubu
Sudaryono Jadi Kepala Badan Gizi Nasional
PSIM Yogyakarta Datangkan Gelandang Bertahan Asal Polandia Adrian Purzycki
Wanita Guru di Tanjungbalai Sumatra Utara Diamuk Massa, Begini Peristiwanya
Pramono Anung: Orang yang Meninggalkan Partainya Tidak Akan Pernah Besar