Oleh Toto Izul Fatah*
WartaPesona.com - Ancaman dunia hari ini bukan hanya perang, konflik geopolitik, perebutan pengaruh negara besar, dan krisis energi. Tetapi, ada ancaman lain yang jauh lebih besar, lebih sunyi, tetapi dampaknya bisa lebih mematikan: krisis iklim dan kerusakan lingkungan hidup.
Ironisnya, ketika bumi mulai memberi tanda-tanda marah dan bahaya, para pemimpin dunia masih lebih sibuk bicara perang, aliansi militer, dagang, dan perebutan sumber daya. Seolah-olah manusia lupa bahwa semua ambisi politik dan ekonomi itu berpijak di atas satu rumah yang sama: bumi.
Kalau rumah besar ini rusak, panas, banjir, terbakar, dan tidak lagi sehat, maka sehebat apa pun pertumbuhan ekonomi dan sestabil apa pun politik, semuanya akan kehilangan makna.
Baca Juga: Muhaimin Iskandar Melantik Belasan Ribu Pengurus DPC PKB se-Indonesia
Lihat saja yang sedang terjadi di Eropa dan Amerika. Prancis, salah satu negara maju dengan sistem mitigasi yang relatif kuat, ikut dihantam gelombang panas sangat ekstrem mencapai 44,3 derajat Celsius.
Dari dalam negeri, lewat BMKG, berbagai potensi ancaman "amuk" alam juga sering disampaikan. Ada ancaman fenomena El Nino, ada ancaman gunung erupsi, ada ancaman gempa mega trust yang berpotensi tsunami dan lain-lain.
Itu semua tentu bukan lagi sekadar berita cuaca. Ini juga adalah alarm ancaman peradaban. Dan sudah cukup banyak data ilmiah yang menunjukkan bahwa ancaman ini bukan ilusi.
Dampak kerusakan lingkungan itu bukan hanya suhu panas. Perubahan iklim memperkuat siklus air. Hujan ekstrem makin intens, banjir makin sering, kekeringan makin parah, permukaan laut terus naik, dan wilayah pesisir akan menghadapi risiko banjir rob serta abrasi yang makin berat.
Baca Juga: Tak Cukup Ashabiyah Hambalang
Peristiwa ekstrem permukaan laut yang dulu mungkin hanya terjadi sekali dalam 100 tahun, bisa terjadi setiap tahun di banyak kawasan pesisir pada akhir abad ini.
Bagi Indonesia, ancaman ini sangat nyata. World Bank menyebut Indonesia sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim, termasuk banjir, kekeringan, kenaikan muka laut, dan kejadian cuaca ekstrem.
Karena itu, sudah saatnya isu lingkungan hidup tidak lagi ditempatkan sebagai isu pinggiran. Ini bukan isu pelengkap. Ini adalah isu keselamatan bangsa.
Ancaman besar yang satu ini saatnya menjadi momentum bagi Presiden Prabowo Subianto untuk tampil sebagai pemimpin yang tidak hanya bicara politik, ekonomi, dan pertahanan, tetapi juga tampil memimpin agenda besar penyelamatan lingkungan hidup nasional.
Artikel Terkait
Garudayaksa FC Diperkuat Pemain Asal Ghana Najeeb Yakubu
Sudaryono Jadi Kepala Badan Gizi Nasional
PSIM Yogyakarta Datangkan Gelandang Bertahan Asal Polandia Adrian Purzycki
Wanita Guru di Tanjungbalai Sumatra Utara Diamuk Massa, Begini Peristiwanya
Pramono Anung: Orang yang Meninggalkan Partainya Tidak Akan Pernah Besar