Baca Juga: Wanita Guru di Tanjungbalai Sumatra Utara Diamuk Massa, Begini Peristiwanya
Yang bikin bumbu makin pedas, undang-undang ini juga memuat ketentuan yang bisa menjangkau individu atau kelompok di luar wilayah Cina jika dianggap mengganggu persatuan etnis atau mendorong separatisme. Taiwan langsung pasang alis mode siaga. Pemerintahan Tibet di pengasingan pun menganggap aturan itu memperkuat proses asimilasi terhadap masyarakat Tibet.
Beijing santai saja. Pemerintah menegaskan aturan ini bukan mesin penghapus budaya, melainkan pagar agar rumah besar bernama Cina tidak roboh diterpa angin perpecahan.
Wakil Menteri Kehakiman Hu Weilie menyebut, media Barat salah paham. Katanya, aturan itu ditujukan untuk aktivitas ilegal yang mengancam persatuan nasional, bukan buat mengejar orang lagi makan mi tarik sambil diskusi akademik.
Begitulah Cina. Negeri yang membangun tembok bukan hanya dari batu, tetapi juga dari pengalaman sejarah.
Negeri yang menganggap stabilitas lebih berharga dari tepuk tangan dunia. Mau setuju atau tidak, satu hal sulit dibantah. Kemajuan mereka bukan datang dari sulap Jack Ma menggosok lampu Aladdin Made in Cina. Ia lahir dari keputusan-keputusan yang kadang dipuji, kadang dicibir, kadang bikin dunia garuk-garuk kepala sambil pesan teh melati. Seperti filosofi yin dan yang, setiap langkah menuju persatuan selalu menyimpan bayangan pertanyaan, kapan persatuan berubah menjadi penyeragaman? Nah, itu PR yang panda pun mungkin masih mikir sambil ngunyah bambu.***
*Rosadi Jamani ialah Ketua SATUPENA Kalimantan Barat
Artikel opini tersebut tidak mewakili pandangan redaksi
Artikel Terkait
Nanik Sudaryati Deyang Mundur Dari Kepala Badan Gizi Nasional
Garudayaksa FC Mendatangkan Pelatih Asal Serbia Milos Joksic
Garudayaksa FC Diperkuat Pemain Asal Ghana Najeeb Yakubu
Sudaryono Jadi Kepala Badan Gizi Nasional
PSIM Yogyakarta Datangkan Gelandang Bertahan Asal Polandia Adrian Purzycki