Baca Juga: Indonesia dan India Kerja Sama Merawat Candi Prambanan Menjadi Destinasi Wisata Warisan Budaya
Seandainya saya Jaksa Agung, saya juga akan menegaskan bahwa kasus ini tidak ada urusan dengan balas dendam antarinstitusi hukum. Tidak ada urusan dengan perang institusi.
"....Ini murni penegakan hukum. Kalau alat buktinya cukup, proses. Kalau tidak cukup, jangan dipaksakan. Semua harus berjalan berdasarkan hukum, bukan berdasarkan emosi, gengsi, atau tekanan politik".
"Justru, kalau Kejaksaan Agung membalas dengan cara yang sama secara membabi buta, maka publik akan melihat ini sebagai perang terbuka antarinstitusi. Itu berbahaya. Negara tidak boleh dibiarkan menjadi arena saling sandera dan senjata menekan lawan".
".....semua harus dilakukan secara profesional, transparan, dan berbasis alat bukti. Bukan karena balas dendam, tetapi karena perintah konstitusi dan amanat rakyat".
Baca Juga: Indonesia Peringkat Kedua Dunia Destinasi Wisata Ramah Muslim
Seandainya saya Jaksa Agung, saya akan mengingatkan seluruh jajaran Kejaksaan Agung: jangan takut. Jangan ciut. Jangan merasa terancam. Kalau kita bersih, kita tidak perlu takut dibersihkan. Kalau ada yang kotor, biarkan ia disapu.
".....Institusi tidak boleh runtuh hanya karena satu atau dua orang di dalamnya diduga bermasalah. Justru institusi akan semakin kuat jika berani membuang bagian yang busuk dari tubuhnya sendiri".
Masih dalam konteks seandainya saya Jaksa Agung, saya akan mengatakan kepada publik: jangan nilai Kejaksaan Agung dari satu kasus. Nilai Kejaksaan Agung dari keberaniannya menindaklanjuti kasus ini sekaligus melanjutkan pembongkaran kasus-kasus besar lain.
"...Sebab, ujian terbesar Kejaksaan Agung bukan hanya ketika orangnya diperiksa, tetapi apakah setelah itu Kejaksaan Agung tetap berani berdiri tegak atau justru melemah".
"....Tetapi kalau Kejaksaan Agung tetap melangkah, tetap membongkar, tetap memproses, dan tetap tidak pandang bulu, maka tuduhan apapun itu akan runtuh dengan sendirinya".
Terakhir, seandainya saya Jaksa Agung, saya akan berdiri tegak di belakang arahan Presiden Prabowo Subianto yang berkali-kali menegaskan pentingnya pemberantasan korupsi.
Negara ini terlalu lama rusak oleh budaya saling melindungi. Pejabat melindungi pejabat. Aparat melindungi aparat. Pengusaha besar melindungi jaringan politik. Dan elite saling menyimpan kartu.
Terakhir, seandainya saya Jaksa Agung, saya akan berkata kepada seluruh rakyat Indonesia: "....jangan khawatir. Kasus ini tidak akan membuat Kejaksaan Agung mundur. Apalagi, dalam membongkar kasus besar,"
Justru, kata saya lagi, dari kasus inilah Kejaksaan Agung harus lahir kembali dengan wajah yang lebih bersih, lebih berani, dan lebih dipercaya rakyat.
Artikel Terkait
Megawati Soekarnoputi Mengucapkan Belasungkawa Wafatnya Imam Ali Khamenei
Piala Dunia 2026: Swiss Menantang Argentina di Perempat Final
Pemain Asal Portugal Diogo Sa Ramalho Perkuat Persebaya Surabaya
Piala Dunia 2026: Inilah Jadwal Babak Perempat Final yang Dimulai Jumat Dini Hari WIB
Jeritan Keuangan Daerah, Bom Waktu Ledakan Sosial