Titik balik menuju hijrah terjadi pada 622 M (tahun ke-13 kenabian). Sekitar 73 laki-laki dan 2 perempuan dari Yatsrib datang secara diam-diam pada malam hari menemui Nabi di Aqabah.
Ketika mendengar Nabi Muhammad berbicara, sebagian dari mereka melihat harapan baru. Mereka berjanji untuk melindungi Nabi, membela beliau sebagaimana mereka melindungi keluarga sendiri, menaati kepemimpinan beliau dalam keadaan senang maupun sulit.
Maka, hijrah bukan sekadar Nabi mencari perlindungan. Yatsrib juga sedang mencari masa depan. Inilah paradoks yang indah dalam sejarah Islam.
Sering kali kita membayangkan Nabi sebagai pihak yang menolong Madinah. Padahal, Madinah juga "menolong" Nabi. Kaum Anshar membuka rumah, menyediakan rasa aman, bahkan bersumpah melindungi beliau sebagaimana mereka melindungi keluarga sendiri. Mereka bukan penonton sejarah. Mereka adalah penulis sejarah.
Bahkan dalam urusan teknis perjalanan pun, Nabi menunjukkan kecerdasan yang membumi. Beliau ditemani Abu Bakar yang telah menyiapkan kendaraan jauh hari sebelumnya.
Jalur perjalanan dipilih secara hati-hati. Seorang penunjuk jalan profesional digunakan agar terhindar dari pengejaran Quraisy. Tawakal berjalan berdampingan dengan perencanaan.
Barangkali di sinilah kita perlu merenung pada awal tahun Hijriyah ini. Kita sering menggunakan kata hijrah dengan sangat ringan. Hijrah dianggap cukup dengan mengganti penampilan, mengubah gaya bahasa, atau memperbarui status media sosial.
Padahal, hijrah pertama justru berbicara tentang keberanian meninggalkan pola lama yang tidak lagi memungkinkan kehidupan bertumbuh. Ia menuntut kemampuan membaca kenyataan tanpa kehilangan harapan.
Hijrah adalah berpindah dari kemungkinan putus asa menuju ikhtiar. Dari kebiasaan menyalahkan keadaan menuju keberanian membangun keadaan. Dari sekadar mengutuk gelap menjadi kesediaan membawa obor.
Obor-obor kecil yang dibawa anak-anak santri malam ini mungkin memang hanya bertahan beberapa jam sebelum padam menjadi abu. Tetapi, semangat yang dilambangkannya seharusnya bertahan lebih lama.
Sebab, dunia hari ini pun dipenuhi berbagai "Mekah" yang melelahkan: kebisingan informasi, kemarahan politik, keputusasaan ekonomi, kegaduhan media sosial, dan kebiasaan saling mencurigai.
Yang kita perlukan bukan sekadar kemampuan bertahan, melainkan keberanian menemukan "Madinah" baru: ruang-ruang persaudaraan, tempat akal sehat dihargai, ilmu dimuliakan, dan manusia diperlakukan dengan martabat.
Mungkin itulah sebabnya kalender hijriah dimulai dari hijrah, bukan kemenangan militer. Islam ingin mengingatkan bahwa masa depan tidak dibangun oleh pesta, melainkan oleh keberanian melangkah ketika jalan belum sepenuhnya terlihat.
Malam ini, ketika obor-obor itu berkeliling kampung, jangan hanya melihatnya sebagai hiburan tahunan. Lihatlah ia sebagai pelajaran sejarah yang sederhana.
Api kecil itu seakan berbisik: tidak semua perjalanan dimulai dengan tepuk tangan. Kadang, perubahan besar justru dimulai oleh beberapa orang yang percaya bahwa esok hari masih layak diperjuangkan.
Artikel Terkait
HIPMI Kota Bekasi Buka Jejaring Wirausaha Dengan Menyelenggarakan Turnamen Padel Padelora Fest
Israel Menganggap Tidak Terikat Oleh Perdamaian Iran-Amerika
Dua Terduga Pelaku Usaha Penculikan di Perumahan Pantai Indah Kapuk Jakarta Ditangkap
Upaya Penculikan Seseorang di Perumahan Pantai Indah Kapuk Jakarta Dilatari Oleh Cinta Yang Tidak Direstui
Diskusi Yang Menghadirkan Budiman Sudjatmiko di UGM Terhenti Setelah Digeruduk Mahasiswa