Baca Juga: Ingat, 20 Juni Akan Ada Festival Wisata Kuliner Malam di Pecinan Glodok Jakarta Barat
Secara akidah, umat Islam meyakini bahwa pendorong utama hijrah adalah izin dan petunjuk Allah. Nabi tidak bergerak semata karena kalkulasi politik. Ada dimensi wahyu yang membimbing langkahnya.
Tetapi, wahyu tidak bekerja dalam ruang kosong. Ia hadir dalam realitas sosial yang konkret. Tuhan membuka jalan, sementara manusia diminta menggunakan akal, membaca peluang, dan menyiapkan bekal.
Di sinilah muncul pertanyaan menarik: siapa yang membangkitkan semangat Nabi untuk berhijrah? Adakah aktor intelektual alias "pemikir" di balik keputusan besar itu?
Kalau yang dibayangkan adalah sosok filsuf istana seperti Aristoteles di belakang Alexander Agung, jawabannya tidak ada. Tidak ada Chanakya yang duduk di belakang Nabi sambil menggambar peta strategi di atas pasir. Tidak ada konsultan politik dengan presentasi PowerPoint berjudul "Roadmap Madinah 622".
Tetapi, sejarah memperlihatkan ada banyak tangan yang bekerja bersama menyiapkan masa depan. Salah satu tokoh paling penting adalah Mus'ab bin Umair. Ia pemuda Quraisy yang dahulu dikenal tampan, kaya, dan hidup dalam kemewahan. Setelah memeluk Islam, ia kehilangan kenyamanan itu.
Ketika penduduk Yatsrib menyatakan baiat kepada Nabi, Mus'ab diutus ke kota tersebut. Tugasnya sederhana sekaligus berat: mengajarkan Al-Qur'an, mengenalkan Islam, membangun kepercayaan, dan merawat komunitas baru.
Penduduk Yatsrib berbaiat kepada Nabi dalam dua fase. Awalnya, pada 620 M atau tahun ke-11 kenabian, sekitar enam orang dari kabilah Khazraj Yatsrib bertemu Nabi Muhammad di Aqabah saat musim haji.
Mereka mendengarkan dakwah Nabi dan menerima Islam. Mereka kemudian kembali ke Yatsrib dan menyebarkan ajaran Islam kepada keluarga serta masyarakat mereka.
Setahun kemudian, dua belas orang dari Yatsrib datang menemui Nabi secara rahasia di Aqabah. Mereka berbaiat untuk: tidak menyekutukan Allah, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak, tidak berdusta, tidak mendurhakai Nabi dalam perkara yang baik.
Baiat ini lebih bersifat komitmen keagamaan dan moral, belum berupa perjanjian militer. Setelah baiat inilah, Nabi mengutus Mus'ab bin Umair ke Yatsrib untuk mengajarkan Islam.
Kalau menggunakan istilah hari ini, Mus'ab adalah diplomat, pendidik, organiser masyarakat, sekaligus pembangun ekosistem. Ia tidak datang membawa pasukan. Ia membawa percakapan. Ia mengetuk pintu-pintu rumah, berdialog dengan tokoh-tokoh suku, menjelaskan ajaran Islam dengan kesabaran.
Berkat kerja sunyinya, beberapa pemimpin berpengaruh di Yatsrib menerima Islam. Kota itu perlahan berubah menjadi tanah yang siap menerima kedatangan Nabi.
Mus'ab mengajarkan satu pelajaran penting: perubahan besar sering kali didahului oleh pekerjaan-pekerjaan kecil yang tidak masuk berita utama.
Di sisi lain, masyarakat Yatsrib sendiri sebenarnya sedang lelah. Kota itu telah lama diguncang konflik antara Aus dan Khazraj. Perang Bu'ats meninggalkan luka mendalam. Mereka membutuhkan figur pemersatu yang memiliki integritas moral.
Artikel Terkait
HIPMI Kota Bekasi Buka Jejaring Wirausaha Dengan Menyelenggarakan Turnamen Padel Padelora Fest
Israel Menganggap Tidak Terikat Oleh Perdamaian Iran-Amerika
Dua Terduga Pelaku Usaha Penculikan di Perumahan Pantai Indah Kapuk Jakarta Ditangkap
Upaya Penculikan Seseorang di Perumahan Pantai Indah Kapuk Jakarta Dilatari Oleh Cinta Yang Tidak Direstui
Diskusi Yang Menghadirkan Budiman Sudjatmiko di UGM Terhenti Setelah Digeruduk Mahasiswa