Baca Juga: Datangnya Kapitalisme Algoritma dan Cikal Bakal Lahirnya Kelas Baru
Keadaan Iran waktu itu memang tidak sedang normal. Iran bukan negara yang sedang bersantai menikmati kebab sambil menonton pertandingan sepak bola. Negara itu sedang ada di tengah situasi perang terbuka yang dipicu serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel.
Nuan bayangkan begini. Kalau pemakaman biasa dihadiri 100 orang, pemakaman Ali Khamenei diperkirakan bisa dihadiri jutaan manusia. Bahkan jumlah pelayat dapat mencapai 20 juta orang.
Dua puluh juta. Itu bukan lagi kerumunan. Itu sudah seperti seluruh penduduk sebuah negara sedang pindah rumah secara bersamaan. Mekah musim haji saja hanya empat juta. Ini sampai 20 juta. “Yak..bayak..” kata urang Sambas.
Masalahnya, jutaan manusia yang berkumpul dalam satu lokasi ketika perang masih berlangsung adalah target yang sangat menggoda bagi pihak musuh.
Menggelar pemakaman waktut itu sama seperti memasang papan reklame raksasa bertuliskan, "Perhatian! Tokoh paling penting Iran sedang dihormati di sini. Silakan lihat koordinat GPS berikut."
Oleh karena itu, faktor keamanan menjadi alasan terbesar penundaan.
Iran juga masih menyimpan trauma mengerikan dari pemakaman Jenderal Qasem Soleimani tahun 2020. Waktu itu, jutaan orang memadati jalan. Suasananya begitu padat hingga terjadi desak-desakan yang menewaskan 56 orang.
Alih-alih mengantar satu jenazah, puluhan jenazah tambahan justru ikut muncul. Pengalaman pahit itu menjadi pelajaran mahal. Pemerintah Iran tidak ingin tragedi yang sama terulang dalam skala yang lebih besar.
Lalu ada faktor kedua yang sering luput dari perhatian dunia luar, Muharram. Bagi banyak Muslim Sunni, Muharram mungkin dikenal sebagai tahun baru Islam.
Namun bagi komunitas Syiah, Muharram memiliki makna emosional yang jauh lebih dalam. Ini adalah bulan berkabung mengenang gugurnya Imam Husein dalam tragedi Karbala tahun 680 masehi.
Kalau dunia sepak bola punya final Piala Dunia, dalam memori spiritual Syiah, Asyura adalah peristiwa yang dampaknya jauh lebih besar dari sekadar pertandingan. Ini adalah tragedi yang membentuk identitas sejarah mereka selama lebih dari 1.300 tahun.
Oleh karena itu, pemerintah Iran menjelaskan, pemakaman sengaja diundur agar tidak mengganggu sepuluh hari pertama Muharram dan peringatan Asyura yang jatuh sekitar 25–26 Juni 2026.
Dengan kata lain, gugurnya pemimpin tertinggi negara tidak menggeser posisi Karbala dalam kalender spiritual Syiah.
Lalu muncullah faktor ketiga. Politik.
Artikel Terkait
Andri Mulyono Tersangka Kelima Skandal Megakorupsi di Badan Gizi Nasional
Swiss Memuji Pakistan Sambil Menawarkan Diri Menjadi Tuan Rumah Penandatangan Perjanjian Damai Iran-Amerika
Lelaki Berusia Lanjut Lolos Dari Usaha Penculikan di Kawasan Pantai Indah Kapuk Jakarta
Pengamat Militer Connie Rahakundini Bakrie Hadiri Pesta Kesenian Bali: Kemajuan Tak Harus Memutus Akar Tradisi
Kabar Adhyaksa FC Bermarkas di Kota Palangka Raya Kalimantan Tengah Semakin Nyata