Di sinilah Prancis dan Indonesia menemukan titik temu yang menarik. Mereka tidak cukup besar untuk memerintah dunia. Tetapi mereka cukup penting untuk memengaruhi arah dunia.
Mereka sedang berusaha membuktikan bahwa kemerdekaan pada abad ke-21 bukanlah kemampuan mengalahkan pihak lain.
Kemerdekaan adalah kemampuan menentukan pilihan sendiri.
Dan dalam dunia yang semakin terpolarisasi, mungkin itulah bentuk kekuatan yang paling berharga.
Namun keberanian berpikir besar menuntut eksekusi dan lapisan teknokratis yang kokoh untuk membuktikannya.
Prabowo masih harus membuktikan bahwa hilirisasi, swasembada pangan, dan anggaran ambisiusnya tidak berakhir sebagai beban fiskal yang membebani generasi berikutnya.
Ketika saya meninggalkan Istana Elysee malam itu, Paris tampak tenang. Lampu-lampu kota tetap menyala, sementara dunia terus bergerak menuju tatanan baru yang belum sepenuhnya kita pahami.
Yang saya lihat bukan sekadar pertemuan Macron dan Prabowo. Saya melihat dua bangsa yang sama-sama berusaha menjaga kemerdekaannya di tengah tekanan geopolitik yang kian besar.
Prancis berusaha mempertahankan pengaruh yang diwarisi sejarah. Indonesia berusaha meraih masa depan yang diyakininya belum tiba.
Apakah mereka akan berhasil? Tak ada yang tahu.
Namun sejarah hampir selalu berpihak kepada bangsa yang berani menentukan jalannya sendiri ketika dunia memaksanya memilih pihak.***
Referensi
Revolution, Emmanuel Macron, XO Editions, 2016
Paradoks Indonesia dan Solusinya, Prabowo Subianto, Yayasan Kertas Nusantara, 2017
Artikel Terkait
Pesan Menjelang Iduladha, Mojtaba Khamenei: Timur Tengah Tidak Akan Lagi Menjadi Perisai Amerika
Iran Tembaki Kapal Yang Mencoba Menerobos Selat Hormuz
Laut Cina Selatan Mulai Panas Setelah Kapal Perang Belanda Beroperasi di Sana
Mendengar Pidato Prabowo dan Macron di Jamuan Makan Malam
Tobat Nasional: Jalan Sunyi Selamatkan Bangsa dan Negara