Saya melihat dua pemimpin yang sama-sama menolak menjadi pengikut.
Yang membuat Macron menarik adalah keberaniannya menantang kemapanan.
Ketika memenangkan pemilu tahun 2017, ia bukan kandidat dari partai besar tradisional. Ia membangun gerakan politiknya sendiri dan mengalahkan kekuatan yang selama puluhan tahun mendominasi politik Prancis.
Namun keberanian terbesarnya muncul setelah berkuasa. Macron berkali-kali mengusung gagasan strategic autonomy atau otonomi strategis Eropa.
Gagasannya sederhana, tetapi berdampak besar.
Eropa harus mampu bekerja sama dengan Amerika Serikat tanpa kehilangan kemampuan berpikir dan bertindak secara mandiri.
Di tengah tekanan geopolitik yang semakin kuat, Macron percaya bahwa kemandirian bukan kemewahan. Ia adalah syarat untuk bertahan.
Pandangan ini sering menempatkannya pada posisi yang tidak nyaman. Namun sejarah jarang diubah oleh mereka yang mengikuti arus.
Sejarah lebih sering diubah oleh mereka yang berani melawan arus.
Untuk memahami Macron lebih dalam, saya teringat bukunya yang terbit sebelum ia menjadi presiden.
Judulnya Revolution. Buku itu bukan memoar. Ia adalah manifesto politik.
Macron menggambarkan kegelisahannya terhadap Prancis yang kehilangan rasa percaya diri dan terjebak dalam polarisasi masa lalu.
Ia menyerukan keberanian untuk membangun jalan baru.
Yang paling relevan bagi dunia saat ini adalah keyakinannya bahwa sebuah bangsa harus terbuka terhadap dunia tanpa kehilangan hak menentukan nasibnya sendiri.
Macron menolak dua ekstrem sekaligus. Ia menolak nasionalisme sempit yang menutup diri dari dunia.
Artikel Terkait
Pesan Menjelang Iduladha, Mojtaba Khamenei: Timur Tengah Tidak Akan Lagi Menjadi Perisai Amerika
Iran Tembaki Kapal Yang Mencoba Menerobos Selat Hormuz
Laut Cina Selatan Mulai Panas Setelah Kapal Perang Belanda Beroperasi di Sana
Mendengar Pidato Prabowo dan Macron di Jamuan Makan Malam
Tobat Nasional: Jalan Sunyi Selamatkan Bangsa dan Negara