Macron dan Prabowo Mencari Jalan Merdeka di Dunia Yang Terbelah

photo author
Tim Warta Pesona 01, Warta Pesona
- Sabtu, 30 Mei 2026 | 09:43 WIB

Tidak ada jaminan bahwa semua gagasan besar akan berhasil. Tetapi sejarah pembangunan menunjukkan satu pelajaran penting: Tidak ada bangsa yang pernah melompat menjadi negara maju tanpa terlebih dahulu memiliki keberanian untuk berpikir besar.

Untuk memahami akar pemikiran Prabowo, saya teringat bukunya yang berjudul Paradoks Indonesia.

Buku itu berangkat dari satu pertanyaan mendasar: Mengapa Indonesia yang begitu kaya masih menyisakan begitu banyak keterbatasan bagi sebagian rakyatnya?

Prabowo menyebutnya sebagai paradoks. Negara kaya. Namun kemakmuran belum sepenuhnya dinikmati secara merata.

Oleh karena itu, buku tersebut menekankan pentingnya kedaulatan pangan, kedaulatan energi, industrialisasi, pendidikan, dan negara yang cukup kuat untuk melindungi kepentingan nasional.

Banyak gagasan yang kini terlihat dalam kebijakan dan diplomasi pemerintahannya sebenarnya telah hadir dalam buku itu jauh sebelumnya.

Untuk memahami arah kepemimpinan Prabowo hari ini, kita tidak cukup membaca pidatonya.

Kita perlu memahami kegelisahan intelektual yang melahirkan pidato-pidato tersebut.

Selama abad ke-20, dunia ditentukan oleh negara-negara raksasa. Inggris. Amerika Serikat. Uni Soviet. Kemudian Cina.

Oleh karena itu, kita terbiasa berpikir bahwa sejarah selalu ditentukan oleh mereka yang paling kuat.

Namun saya mulai melihat kemungkinan yang berbeda untuk abad ke-21. Bisa jadi pertanyaan terbesar zaman ini bukan lagi siapa negara yang paling kuat. Melainkan siapa yang mampu menjaga kebebasan memilih ketika dunia terbelah menjadi berbagai kubu.

Dalam dunia yang semakin multipolar, negara besar memang memiliki kekuatan untuk menekan. Tetapi mereka tidak selalu memiliki keleluasaan untuk bergerak.

Sebaliknya, negara-negara menengah sering kali tidak cukup kuat untuk mendominasi dunia, tetapi justru memiliki ruang yang lebih luas untuk membangun jembatan, membentuk koalisi, dan menentukan keseimbangan.

Oleh karena itu, saya melihat sebuah paradoks baru. Abad ke-20 mungkin milik negara-negara besar.

Tetapi abad ke-21 bisa menjadi abad negara-negara menengah. Bukan karena mereka paling kuat. Melainkan karena mereka memiliki sesuatu yang semakin langka dalam geopolitik modern: Kemampuan berbicara dengan semua pihak tanpa harus menjadi milik siapa pun.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: IRA WP

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Donald Trump: Kami Jadi Penjaga Selat Hormuz

Selasa, 14 Juli 2026 | 08:51 WIB
X