Banjir Bandang Tinggalkan Jejak Kayu di Mana-mana, Warga Aceh Tamiang Keluhkan Pemulihan yang Lambat

photo author
Tim Warta Pesona 01, Warta Pesona
- Selasa, 13 Januari 2026 | 16:24 WIB
Kondisi Aceh Tamiang yang masih dipenuhi dengan tumpukan kayu pascabanjir bandang - WartaPesona.com (Kendari Kita)
Kondisi Aceh Tamiang yang masih dipenuhi dengan tumpukan kayu pascabanjir bandang - WartaPesona.com (Kendari Kita)

Menjelang Ramadan, Warga Tak Bisa Ziarah Kubur

Menjelang bulan suci Ramadan, kesedihan warga Desa Pengidam semakin bertambah.

Tradisi ziarah kubur yang biasanya dilakukan sebelum Ramadan dan Lebaran terpaksa tak bisa dijalankan tahun ini.

Pasalnya, area pemakaman desa kini ikut tertimbun kayu gelondongan dan lumpur. Nisan dan gundukan makam tak lagi terlihat, menyisakan rasa pilu bagi keluarga yang ditinggalkan.

“Lebaran tahun ini nggak bisa ziarah. Kuburannya pun tertutup sama kayu, gimana coba?” ujar influencer sekaligus relawan kemanusiaan yang kerap disapa Bray, dikutip dari unggahan Instagram @si.braay pada Minggu, 11 Januari 2026.

Bray yang beberapa kali turun langsung ke lokasi bencana membagikan kondisi terkini Desa Pengidam melalui sejumlah video.

Dalam rekaman tersebut, tampak jelas betapa masifnya kerusakan yang terjadi, bukan hanya pada rumah warga, tetapi juga pada ruang-ruang yang selama ini menjadi simbol kehidupan sosial dan spiritual masyarakat.

Lumpur Mengering, Seng dan Kayu Berserakan

Selain tumpukan kayu, wilayah Dusun Sijantung juga dipenuhi endapan lumpur tebal yang mulai mengeras.

Lumpur bercampur pasir itu menutupi permukaan tanah, menyulitkan proses pembersihan dan pencarian sisa-sisa bangunan.

Potongan kayu berbagai ukuran, puing bangunan, serta atap seng terlihat berserakan, termasuk di area pemakaman.

Kondisi ini membuat warga tak hanya kehilangan tempat tinggal, tetapi juga kehilangan ruang untuk mengenang dan mendoakan keluarga mereka yang telah wafat.

Dalam video lainnya, Bray terlihat bersama anak-anak Desa Pengidam menyanyikan lagu viral TikTok “Tor Monitor Ketua”.

Namun lirik lagu tersebut diubah menjadi bentuk sindiran sekaligus jeritan hati, menyuarakan harapan agar pemerintah segera mengangkat kayu-kayu yang telah sebulan lebih menumpuk.

“Tor monitor ketua, anggota mau lapor ketua,
kayunya udah di sini sebulan ketua,
tolong diangkat ketua, kami mau bikin rumah ketua.”

Lagu sederhana itu menjadi simbol kegelisahan warga yang ingin segera memulai kembali kehidupan mereka, namun terhambat oleh material bencana yang belum tertangani.

Baca Juga: Keluhkan Tiket Mahal ke Aceh, Menkes Budi Ungkap Relawan Kemenkes Lebih Murah Terbang via Malaysia

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: IRA WP

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Donald Trump: Kami Jadi Penjaga Selat Hormuz

Selasa, 14 Juli 2026 | 08:51 WIB
X