Menurutnya, tokoh-tokoh besar seperti Ibnu Sina dan Al-Farabi adalah contoh insan kamil yang lahir dari sistem pendidikan Islam yang inklusif dan progresif.
Sementara itu, Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar menekankan perlunya evaluasi total terhadap sistem dan orientasi pendidikan pesantren.
Ia menegaskan bahwa pesantren harus memiliki daya saing tinggi untuk menjadi pemimpin di era digital, bukan sekadar pengikut.
“Jangan sampai pesantren hanya menjadi simbol. Ia harus menjadi solusi. Pesantren punya sejarah panjang dan kekuatan akar rumput yang luar biasa. Sekarang saatnya memimpin,” tegas Cak Imin.
Konferensi ini menjadi panggung pertemuan antara pemikiran tradisional dan inovatif, membuka jalan bagi lahirnya paradigma baru pendidikan Indonesia yang berakar kuat pada nilai dan terbuka terhadap perubahan zaman.
Pesantren, yang dulunya dianggap kuno, kini justru tampil sebagai pusat inovasi pendidikan berkelanjutan yang membumi dan mencerahkan.***
Artikel Terkait
Berkah Ramadan: Kemenag Salurkan Kurma Raja Salman ke Seluruh Indonesia
Mudik Gratis Kemenag 1446 H: Perjalanan Penuh Berkah Menuju Kampung Halaman
Menyatukan Langkah Menuju Baitullah: Manasik Haji Nasional Perdana Kemenag Libatkan 140 Ribu Jemaah Secara Daring
Kemenag Raih Rekor MURI dengan Bimbingan Manasik Haji Nasional, 140 Ribu Peserta Bersatu dalam Doa
Waspada! Kemenag Ingatkan Risiko Berat Jika Gunakan Visa Non Haji
Kemenag Gelar Orientasi Terintegrasi PPIH Arab Saudi 1446 H untuk Tingkatkan Kualitas Layanan Jemaah Haji
Optimalisasi Tata Kelola Dam/Hadyu 2025: Langkah Kemenag Perkuat Akuntabilitas dan Manfaat Sosial Ibadah Haji
Inovasi Digital Al-Qur’an Kemenag Tembus 55 Juta Pengguna: LPMQ Siapkan Chat Qur’ani Berbasis AI
Jelang Armuzna, Menag Perintahkan Itjen Kemenag Tindak Cepat Ketidaksesuaian Layanan Haji
Irjen Kemenag Tegaskan Komitmen Pelayanan Prima Saat Pantau Langsung Kepulangan Jemaah Haji di Jeddah