Pesantren dan Revolusi Pendidikan: Titik Temu Tradisi dan Inovasi di Tengah Perubahan Zaman

photo author
Anne Ardianti, Warta Pesona
- Rabu, 25 Juni 2025 | 09:42 WIB
Menteri Agama Nasaruddin Umar menjadi pembicara pada Konferensi Internasional Transformasi Pesantren yang digelar oleh Partai Kebangkitan Bangsa  di Jakarta, Selasa (24/6/2025). (Foto: kemenag.go.id)
Menteri Agama Nasaruddin Umar menjadi pembicara pada Konferensi Internasional Transformasi Pesantren yang digelar oleh Partai Kebangkitan Bangsa di Jakarta, Selasa (24/6/2025). (Foto: kemenag.go.id)

Okocenews.com- Jakarta, 24 Juni 2025 — Di tengah derasnya arus modernisasi dan disrupsi global, pesantren kembali ditekankan sebagai institusi strategis dalam menciptakan masa depan pendidikan Indonesia.

Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan hal tersebut dalam Konferensi Internasional Transformasi Pesantren yang digelar oleh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Jakarta, Selasa (24/6/2025).

Dalam forum internasional tersebut, Menag menyoroti pentingnya merevitalisasi peran pesantren agar tak hanya menjadi pelestari tradisi, tetapi juga aktor utama dalam revolusi pendidikan.

Baca Juga: Presiden Prabowo Pimpin Konsolidasi Nasional Sekolah Rakyat Jelang Tahun Ajaran 2025–2026

Ia menjelaskan bahwa pesantren memiliki kekayaan epistemologis yang menggabungkan unsur akal, wahyu, intuisi, dan pengalaman spiritual yang tak ditemukan di sistem pendidikan formal konvensional.

“Pesantren bukan hanya tempat menghafal dan memahami, tapi juga tempat menemukan. Santri belajar langsung dari semesta, dari kehidupan, dari ilham, dan tentu dari Tuhan,” kata Nasaruddin.

Ia menyebut pesantren sebagai bentuk pendidikan integral yang membentuk karakter, moral, dan intelektual secara bersamaan.

Baca Juga: KAI Tawarkan Diskon 20% Tiket Kereta Eksekutif dan Bisnis di Jakarta Fair 2025: Dorong Mobilitas Aman dan Nyaman

Menag juga menyoroti tren global yang mulai mengapresiasi sistem pendidikan berbasis asrama seperti pesantren.

Ia mengutip pernyataan seorang profesor dari Inggris yang mengakui keunggulan pesantren dalam membentuk kedisiplinan dan spiritualitas murid secara holistik.

Dengan komunitas lebih dari 10 juta jiwa, Menag menekankan pentingnya menguatkan ekosistem pesantren secara menyeluruh, baik dari segi kebijakan, teknologi, hingga literasi digital.

Baca Juga: Gerakan Wisata Bersih di Lovina: Strategi Pemerataan Pariwisata Bali Melalui Inisiatif Kebersihan Berkelanjutan

“Jika kita mampu memperkuat sistem pesantren dengan teknologi, maka kita akan memiliki model pendidikan yang bukan hanya relevan, tapi juga unggul,” ujarnya.

Menag juga mengajak para kiyai dan pengasuh pesantren untuk membuka ruang bagi pengembangan ilmu pengetahuan yang tidak menafikan akar keislaman.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Anne Ardianti

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

PWI Mengecam Pernyataan Hotman Paris Hutapea

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:45 WIB
X