opini

Dari Istana Negara Menuju Kekuatan Ekonomi Perempuan Indonesia: Tatyana Sutara dan Masa Depan IWAPI

Selasa, 4 Agustus 2026 | 07:34 WIB
Teguh Anantawikrama, Ketua Indonesian Tourism Investors Club dan Wakil Ketua Umum Bidang Teknologi Transfer dan Digital KADIN. (Foto: Dok. Pribadi)

Oleh Teguh Anantawikrama
Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia Bidang Transformasi Teknologi dan Digital

WartaPesona.com - Pertemuan Presiden Prabowo Subianto bersama jajaran menteri dengan para pemimpin KADIN Indonesia di Istana Negara pada Jumat, 31 Juli 2026, bukan sekadar pertemuan seremonial antara pemerintah dan dunia usaha.

Pertemuan tersebut menjadi momentum penting untuk menyelaraskan arah pembangunan ekonomi nasional, pelaksanaan program-program prioritas pemerintah, serta memperkuat kolaborasi antara pembuat kebijakan dan para pelaku usaha.

Presiden Prabowo menegaskan bahwa dialog dengan dunia usaha merupakan bagian penting dari pembangunan nasional.

KADIN Indonesia, yang hadir bersama jajaran pusat, daerah, serta berbagai asosiasi bisnis, kembali menegaskan komitmennya untuk menjadi mitra strategis pemerintah dalam memperkuat ketahanan ekonomi nasional dan mendorong Indonesia secara bertahap menuju target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen.

Di antara para pemimpin dunia usaha yang hadir terdapat Tatyana Sutara, Wakil Ketua Umum I Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia atau IWAPI.

Kehadirannya memiliki arti penting karena ia mewakili kelompok pelaku ekonomi yang selama ini kerap dibicarakan sebagai kelompok sosial, tetapi belum sepenuhnya ditempatkan sebagai salah satu kekuatan ekonomi terbesar Indonesia, yaitu para pengusaha perempuan.

Baca Juga: Teguh Anantawikrama : Ketika Dunia Goyah, Keberanian Menyelamatkan Bangsa

Transformasi ekonomi Indonesia tidak akan pernah lengkap apabila usaha milik perempuan tidak ditempatkan di pusat strategi pertumbuhan nasional.

Di kota, desa, pasar tradisional, platform digital, hingga pusat produksi berbasis rumah tangga, perempuan menjalankan usaha di sektor makanan, fesyen, kerajinan, pertanian, pariwisata, kesehatan, pendidikan, perdagangan, jasa profesional, dan ekonomi kreatif.

Banyak di antara usaha tersebut masih dikategorikan sebagai usaha mikro dan kecil. Namun, apabila dilihat secara kolektif, mereka membentuk jaringan ekonomi yang sangat besar. Mereka menopang keluarga, menciptakan lapangan kerja lokal, menjaga ketahanan sosial, serta menggerakkan perputaran uang di berbagai daerah.

Dalam banyak rumah tangga, usaha milik perempuan bukan sekadar sumber pendapatan tambahan, melainkan fondasi utama bagi keberlangsungan hidup dan peningkatan kesejahteraan keluarga.

Pandangan Tatyana setelah pertemuan dengan Presiden tersebut perlu dipahami dalam konteks yang lebih luas. Peluang yang ada di depan Indonesia bukan hanya membantu lebih banyak perempuan untuk memulai usaha.

Tantangan yang sesungguhnya adalah membantu para pengusaha perempuan tumbuh dari kegiatan informal menjadi usaha yang produktif, terhubung dengan teknologi, memiliki akses pasar, dan mampu meningkatkan skala bisnisnya.

Halaman:

Tags

Terkini

Tak Cukup Ashabiyah Hambalang

Kamis, 23 Juli 2026 | 08:30 WIB

Ke Baduy Saja, Tak Perlu ke Singapura

Selasa, 21 Juli 2026 | 18:57 WIB

Ketika Sepak Bola Menjadi Sejenis Agama Modern

Senin, 20 Juli 2026 | 12:48 WIB

Rezeki Yang Menular

Senin, 20 Juli 2026 | 09:24 WIB

Simpul Nominee Rumah Sentul

Kamis, 16 Juli 2026 | 08:55 WIB

Jawaban Awal Seputar Jaksa

Sabtu, 11 Juli 2026 | 07:22 WIB

“Seandainya saya Jaksa Agung”

Kamis, 9 Juli 2026 | 14:12 WIB

Mengapa Manusia Suka Menonton Sepak Bola?

Selasa, 7 Juli 2026 | 06:43 WIB