Baca Juga: Israel diduga Menekan Meta agar Menyensor Konten Yang Menguntungkan Iran
Oleh karena itu, melewatkan makam Habibie dalam rangkaian ziarah ke makam mantan presiden bisa menimbulkan kesan yang tidak sehat.
Seolah-olah jasa Habibie lebih kecil. Seolah-olah warisan kepemimpinan Habibie kurang penting untuk dikenang.
Padahal, dalam sejarah transisi Indonesia, Habibie justru memainkan peran yang sangat menentukan. Habibie memimpin Indonesia pada masa yang sangat genting setelah reformasi 1998.
Masa pemerintahannya memang singkat, tetapi singkat tidak berarti kecil. Dalam periode yang pendek itu, Habibie menjadi jembatan transisi dari otoritarianisme menuju demokrasi.
Ia membuka ruang kebebasan pers, mendorong proses demokratisasi, dan menjadi simbol bahwa kekuasaan harus tunduk pada perubahan zaman.
Dalam konteks inilahi, kritik kepada Kapolri menjadi relevan. Kalau berziarah itu disebut sebagai upaya menyerap nilai para pemimpin bangsa, nilai apa yang hendak diserap dari Habibie seharusnya juga tidak boleh dilupakan.
Dari Habibie, Polri bisa belajar tentang keberanian membuat transisi. Dari Habibie, Polri bisa belajar tentang pentingnya ilmu pengetahuan dalam membangun negara. Dan dari Habibie, Polri bisa belajar bahwa kekuasaan harus punya kerendahan hati untuk membuka pintu demokrasi.
Oleh karena itu, Kapolri sebaiknya memberikan penjelasan terbuka. Apakah berziarah ke makam Habibie akan dilaksanakan dalam agenda terpisah? Apakah ada kendala waktu, teknis, protokoler, atau rute perjalanan? Ataukah memang rangkaian ziarah itu belum selesai?
Penjelasan semacam ini penting agar publik tidak menafsirkan sendiri-sendiri.
Tanpa penjelasan, tindakan yang semula dimaksudkan sebagai penghormatan bisa berubah menjadi kontroversi. Niat baik bisa dibaca sebagai sikap pilih-pilih. Simbol persatuan bisa tampak seperti simbol pengecualian.
Dan penghormatan kepada para pemimpin bangsa justru berpotensi menimbulkan pertanyaan, apakah semua mantan presiden diperlakukan dengan standar penghormatan yang sama?
Dalam negara yang sedang membutuhkan keteladanan, sensitivitas simbolik itu penting. Seorang Kapolri bukan sekadar pimpinan institusi keamanan. Ia adalah pejabat negara yang setiap tindakannya mengandung makna politik, moral, dan kebangsaan.
Oleh karena itu, dalam urusan simbol penghormatan kepada mantan presiden, presisi komunikasi menjadi sangat penting.
Kapolri tentu tidak harus selalu sempurna dalam setiap agenda. Tetapi ketika ada tokoh sebesar Habibie yang terlewat, penjelasan adalah bentuk tanggung jawab komunikasi publik.