Sebab Habibie bukan catatan kaki dalam sejarah Indonesia. Ia adalah salah satu bab penting dalam perjalanan bangsa ini.
Jika Kapolri ingin menjadikan ziarah ini sebagai refleksi kebangsaan menjelang hari Bhayangkara, lengkapilah refleksi itu dengan menghormati Habibie. Sebab bangsa besar bukan hanya bangsa yang menghormati pendiri republik, pemimpin pembangunan, atau tokoh pluralisme, tetapi juga bangsa yang menghormati ilmuwan-negarawan yang pernah menjaga Indonesia di masa transisi paling genting.
Habibie layak diziarahi. Bukan hanya karena ia mantan presiden, tetapi karena ia adalah simbol bahwa Indonesia pernah punya mimpi besar, menjadi bangsa yang maju, cerdas, demokratis, dan percaya diri di hadapan dunia.***
*Toto Izul Fatah ialah Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA dan Ketua Umum IKA PP Ibadurrahman YLPI Tegalega Sukabumi, Jawa Barat
Artikel opini tersebut tidak mewakili pandangan redaksi
Artikel Terkait
Hilangnya Nama Gibran di Barisan Pendukung Prabowo, Pecah Kongsi?
Jakarta Berikan Insentif Pajak 50 Persen Kepada Indsutri Film
Indonesia Meraih Peringkat Kedua Global Muslim Travel Index Award 2026
Gubernur Pramono Anung Wibowo Resmikan Hasil Penataan Jalan HR Rasuna
Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Menggelar Festival Kuliner Jakarta 2026