Mereka tampaknya memahami bahwa musuh terbesar sebuah bangsa bukanlah kemiskinan, bukan pula perbedaan, melainkan hilangnya kepercayaan bahwa permainan ini masih berlangsung dengan aturan yang sama untuk semua orang.
Bangsa tidak runtuh karena kekurangan slogan. Bangsa runtuh ketika rakyat mulai percaya bahwa timbangan selalu dimiringkan sebelum pertandingan dimulai.
Dengan demikian, setiap 1 Juni, mungkin pertanyaan terpenting bukanlah apakah kita masih hafal lima sila. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah kita masih berusaha membuat kata "adil" berhenti menjadi pigura di dinding kantor, berhenti menjadi ukiran di podium pidato, lalu turun ke jalan, masuk ke ruang sidang, ke pasar, ke sekolah, ke sawah, ke pelabuhan, dan benar-benar hidup di tengah manusia?
Sebab dari 29 kata Pancasila, hanya satu akar kata yang mendapat kehormatan muncul dua kali. Dan mungkin itu bukan kebetulan. Itu peringatan.
Ia adalah lampu mercusuar yang terus berkedip dari kejauhan, mengingatkan bahwa kapal bernama Indonesia belum sepenuhnya tiba di pelabuhan yang dicita-citakan para pendirinya.***
*Ahmadie Thaha ialah kolumnis