Oleh Toto Izul Fatah*
WartaPesona.com - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang akrab disapa KDM (Kang Dedi Mulyadi) mungkin satu dari sekian banyak kepala daerah yang "cengeng".
Air matanya sangat mudah menetes dengan spontan ketika ada dalam momen haru menyaksikan kesusahan dan derita rakyatnya.
Itu pula yang terjadi sewaktu KDM hadir dalam kerumuman orang yang menyambutnya di sebuah acara safari budaya Abdi Nagri Nganjang ka Warga.
Baca Juga: Persib Bandung dan Borneo FC Wakili Indonesia di Turnamen ASEAN Club Championship 2026/2027
Dalam keriuhan yang dipadati teriakan panggilan Bapak, Bapak, Bapak, khususnya dari emak-emak, KDM tampak tak kuasa menahan tangisnya. Sambil berjalan menyapa warga lainnya, air mata KDM terus bercucuran.
Memang, banyak tafsir yang bisa dimaknai dari tangisan seorang pemimpin itu. Ia bisa menjadi sekadar ledakan emosi sesaat. Tetapi bisa juga menjadi bahasa batin yang jauh lebih dalam. Yaitu, bahasa seorang manusia yang tiba-tiba menyadari bahwa di pundaknya sedang bertumpu harapan banyak orang.
Dalam konteks KDM sebagai gubernur, tangisan ketika disambut rakyat tidak bisa dibaca secara dangkal sebagai kelemahan. Justru di si tulah tampak sisi paling manusiawi dari seorang pemimpin.
Ia menangis bukan karena kehilangan kendali, melainkan karena hatinya sedang disentuh oleh kenyataan besar, -- rakyat yang mencintainya, tetapi bukan cinta rakyat yang kosong.
Baca Juga: Perempuan Muda Yang Meninggal di Hotel di Kebayoran Baru Jakarta Selatan adalah Korban Pembunuhan
Di balik tepuk tangan, sorak-sorai, pelukan, dan tatapan penuh harap, ada pesan sunyi yang sangat berat: “Kang Dedi, Bapak Aing, kami menitipkan hidup kami kepadamu.”
Itulah sebabnya, air mata Dedi Mulyadi bisa dibaca sebagai air mata kesadaran.
Kesadaran bahwa jabatan gubernur bukan sekadar kursi kekuasaan, bukan sekadar panggung politik, bukan pula sekadar posisi administratif.
Jabatan itu adalah amanah sosial, moral, bahkan spiritual. Ketika rakyat menyambutnya dengan cinta, sesungguhnya rakyat sedang menyerahkan sebagian kecemasan hidupnya kepada pemimpin yang mereka anggap dekat, mengerti, dan mau mendengar.